Pengorbananmu Menjadi Sumber Kebahagiaan Kami
Jika bukan beliau, lalu siapa lagi yang akan membantu kakek dalam kebutuhan ekonomi. Karena nenek saya hanyalah seorang buruh tani yang penghasilannya tidak menentu. Sehingga beliau bertekad untuk tidak melanjutkan pendidikan demi keluarga. Tidak ada penyesalan atas apa yang terjadi, karena baginya pengorbanan adalah kebahagiaan.
Hingga saat ini, beliau amat sangat memprioritaskan pendidikan kepada anak-anaknya. Namun tidak melupakan ibadah yang diajarkan sejak dini kepada saya dan adik saya. “Tuhan itu tidak tidur teteh. Kalau teteh selalu bersyukur dan berusaha, maka teteh akan dimudahkan dalam banyak hal. Makanya jangan lupa sama Allah yang sudah kasih teteh umur yang sangat berarti ini, dengan fisik teteh yang tidak kekurangan sama sekali,” nasihatnya.
Terima kasih atas sayangmu. Terima kasih atas perhatianmu. Terima kasih atas perjuanganmu selama ini. Terima kasih atas tetesan lelahmu yang membuat keluarga ini bahagia. Terima kasih atas apa yang selama ini kau korbankan. Maafkan keegoisanku, maafkan ketidakpatuhanku, maafkan kenakalanku selama ini yang membuatmu meneteskan airmata yang amat sangat berharga.
Kau adalah cahaya yang diberikan Tuhan padaku dan keluarga ini. Terima kasih mama. Terima kasih mau membimbingku selama ini, sehingga aku menjadi orang yang akan balik memberikan semua yang kau mau dan membanggakanmu. Teteh, bapak dan ade sayang banget sama mama dan terima kasih atas segalanya. I love you, Mom! (Tulisan ini dikirim oleh Rifa Aisatu Ulfa Z, mahasiswa Universitas Pancasila)