Tetap Semangat Meraih Sukses Demi Papa dan Mama
- U-Report
Aku disuruh menjalani beragam tes dan lainnya. Karena menurut sekolah, aku berasal dari luar daerah makanya harus mengikuti beragam tes. Dan pada akhirnya pun, aku tidak diterima di sekolah tersebut, karena kuota sudah penuh katanya. Lalu Papa tetap tersenyum ketika melihat namaku tidak muncul di papan pengumuman. Dan ia tetap semangat mencarikanku sekolah swasta yang lumayan berbobot.
Masih sama seperti sebelumnya, Papa masih sibuk mengurus keperluan ini-itu untuk sekolahku. Mulai berkas-berkas yang diperlukan, sampai dengan pembiayaan. Jika aku ingat masa-masa itu lagi, rasanya aku seperti anak durhaka. Jika ingat masa-masa itu lagi, rasanya aku malu pada diri sendiri. Anak macam apa aku ini? Yang tidak bersyukur pada takdir. Padahal anak-anak yang berkecukupan lainnya belum tentu dapat diperlakukan seperti itu oleh Papanya.
Waktu berlalu, yaitu ketika aku ingin melanjutkan pendidikan strata 1 ku. Ketika itu aku diterima sebagai mahasiswa undangan di sebuah universitas di Pekanbaru, Riau. Akan tetapi niat pertamaku adalah ingin melanjutkan pendidikan di tanah kelahiranku, yaitu Jakarta. Aku tidak mengambil kesempatan sebagai mahasiswa undangan itu. Ketika itu aku mencoba untuk mendaftar di salah satu universitas negeri di Bandung. Dan Papa mengantarku ke tempat tujuan.
Tidak lama di Bandung, aku menyuruhnya pulang kembali ke Pekanbaru karena menurutku kasihan mama dan kedua adikku jika ditinggal terlalu lama. Kali ini aku tidak membiarkan Papa untuk mengurus keperluan kuliahku lagi. Kali ini aku yang mengurusnya sendiri. Mulai dari berkas pendaftaran sampai dengan tes masuk.
Ketika pengumuman keluar, namaku lagi-lagi tidak ada di deretan mahasiswa yang lolos ujian tes masuk. Aku sedih, lalu aku segera mengabarkan kedua orangtuaku sambil menangis. Lalu dengan lembutnya Papa berkata, “Ya sudah tidak usah bersedih, mungkin bukan rezeki kamu untuk kuliah di sana.” Papa selalu seperti itu. Beliau memang jarang berbicara, tetapi beliau selalu memperhatikan anak-anaknya lebih dari yang aku tahu.
Sekarang aku sudah duduk di semester 5. Beliau masih sama, teramat sangat peduli dengan kondisi dan pendidikan anak-anaknya. Beliau tidak pernah melarang anak-anaknya melakukan kegiatan apapun di luar akademik. Selagi itu tidak mengganggu kegiatan belajar kami, beliau selalu mendukungnya.