Perjuangan Ibu Menghidupi Buah Hatinya
- U-Report
VIVA.co.id – Sorot sang surya yang semakin melambung menandakan bahwa terbitnya mentari datang menyambut pagi. Meninggalkan waktu fajar serta membangunkan orang-orang untuk memulai aktivitas di pagi hari. Meski waktu menunjukkan pukul enam pagi, namun sinar mentari cukup mengundang gerah yang mengusik nyaman. Seakan memberi sinyal kepada wanita sigap itu untuk siaga melayani pembeli. Dia sedari lewat tengah malam tadi sudah sibuk di dapur, memasak berbagai hidangan makanan untuk dijual.
Dia adalah ibuku. Sosok wanita paruh baya kelahiran Indramayu, Jawa barat. Seorang ibu rumah tangga yang tak pernah bosan untuk selalu mendidik dan memberikan motivasi kepada anak-anaknya. Selain menjalani kesehariannya sebagai ibu rumah tangga, dia juga berjualan nasi dan lontong sayur di pinggir jalan dekat rumah. Sudah kurang lebih selama 10 tahun.
Sejak kecil ibu sudah bekerja membantu nenek untuk menghidupi keluarganya. Pendidikan yang beliau dapat hanya sampai kelas dua SD. Lebih dari itu, beliau hidup keras dan bekerja sebagai petani kurang lebih selama tiga tahun. Tak lama setelah berhenti bekerja sebagai petani, ibu bertekad untuk merantau ke Jakarta hanya untuk mengubah nasib. Apapun pekerjaan yang ibu lakoni, ibu tetap bersyukur dan bangga karena bisa bertahan hidup di kota metropolitan ini. Meski kala itu upah yang diterima ibu tidak sebanding dengan tenaga dan keringat yang dikeluarkan.
Setelah belasan tahun ibu hidup di Jakarta, akhirnya dia bertemu dengan ayah. Ayah pun langsung jatuh hati dan segera melamar ibu. Tapi di satu sisi, ibu tidak mau dilamar ayah lantaran sifat dan perilaku Ayah yang selalu menjadi perbincangan banyak orang. Namun, nenek tetap kukuh untuk menjodohkan ibu dengan ayah. Dengan terpaksa ibu pun mau menerima lamaran ayah, dan akhirnya menikah dengannya.
Impian dan harapan untuk mengubah nasib seakan sudah terwujud karena telah menikah dengan ayah. Tapi Allah berkehendak lain. Ternyata hidup yang ibu jalani bertambah sulit, lantaran sifat dan perilaku ayah yang setiap hari selalu berbuat onar dan menjadi bahan perbincangan tetangga. Hati dan telinga ibu seakan sudah kebal setiap mendengar orang membicarakan keburukan ayah. “Sudah kebal ibu mah kalau orang ngomongin ayah mulu,” jawabnya sambil memegang ulekan.