Sosok Ibu di Mataku
- http://catatanbund4.wordpress.com/
Sebenarnya kakek tidak pernah menyetujui jika ibu harus bekerja jauh dari rumah. Namun, ibu tetap bersikukuh ingin bekerja di pabrik tersebut. Dengan segala pengertian yang ibu berikan, kakek pun akhirnya memberikan izin ibu untuk bekerja. Dengan berat hati, kakek merelakan ibu pergi jauh dari rumah.
Ibu adalah satu-satunya anak yang telah merasakan bekerja sejak kecil. Tidak pernah merasa lelah ataupun menyesal karena hanya merasakan bangku Sekolah Dasar saja. Kakek selalu bangga terhadap ibu karena perjuangannya membantu keluarga. Ibu selalu menjadi sosok yang dirindukan oleh kakek dan nenek ketika jauh dari rumah. Selalu diinginkan kehadirannya setiap saat oleh kakek.
Suatu hari, ibu membawa sebuah kabar yang tidak tahu harus dikatakan kabar baik atau kabar buruk. Kabar tersebut adalah sebuah pinangan dari seorang lelaki yang merupakan bos di tempat ibu bekerja. Namun, harapan ibu harus pupus karena penolakan dari kakek yang tidak menerima pinangan tersebut.
Hingga pada usia 17 tahun, ibu bertemu dengan ayah. Mungkin cinta pada pandangan pertama berlaku pada ayah dan ibu. Mereka pertama kali bertemu ketika ibu merantau ke jakarta untuk ikut dengan kakaknya bekerja. Pertemuan itu menjadi pertemuan pertama yang sangat indah untuk mereka. Sejak pertemuan itu, ayah memutuskan untuk meminang ibu. Dan hingga detik ini, pertemuan tersebut tidak pernah dilupakan oleh ayah dan ibu.
Aku memang tidak terlalu mengenal sosok ayah saat kecil. Aku hanya mengenal sosok ibu yang selalu menjagaku, yang selalu ada ketika aku jatuh. Ayah pergi merantau ke berbagai kota untuk mencari nafkah. Ibu selalu menerima kondisi ayah bagaimanapun keadaan ayah. Perasaan itu selalu tumbuh setiap harinya. Namun, bukan berarti aku tidak dekat dengan ayah. Tetap, mereka berdua adalah sosok yang begitu berharga bagiku. (Tulisan ini dikirim oleh Hesti Fuji Kartini, mahasiswa Universitas Pancasila, Jakarta)