Semangat yang Tak Pernah Padam
- U-Report
VIVA.co.id – Rina, usianya baru saja genap 25 tahun. Dari masa taman kanak-kanak ia gemar membuat rajutan dari bahan benang wol. Waktu yang tersisa setelah pulang sekolah dihabiskannya hanya untuk membuat rajutan. Tidak seperti anak-anak lainnya yang pergi bermain setelah pulang sekolah.
Rina merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Bapaknya bernama Anto dan ibunya bernama Eva. Awalnya Ibu Eva merupakan ibu rumah tangga biasa yang juga suka membantu suaminya bertani di sawah. Akan tetapi, dengan kegigihan dan kerja keras serta semangat juang, Ibu Eva akhirnya bisa mendapatkan berbagai macam beasiswa. Dan saat ini Ibu Eva sudah menjadi guru tetap di salah satu SD di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Akan tetapi, pada saat itu penghasilan menjadi guru tidaklah seberapa. Belum cukup untuk menutupi kehidupan sehari-hari. Apalagi suaminya, Pak Anto yang notabene hanya seorang petani. Untuk itu, Rina harus tetap merajut untuk menambah pemasukan keuangan keluarganya, meskipun tidak seberapa.
Setiap hari libur dan Minggu, pagi sekali sebelum matahari terbit, Rina sudah berangkat untuk menjual hasil rajutannya di sebuah pasar di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sehabis salat subuh ia berjalan dari kediamannya di daerah Embun Pagi dengan membawa tas dan beberapa kantong kresek berwarna hitam. Ia berangkat dengan menggunakan sepeda ontel ayahnya yang biasa digunakan ke sawah. “Sebuah kebahagiaan akan datang ketika kita dapat mensyukuri apapun yang diberikan Sang Pencipta,” ujarnya.
Pasar itu semakin ramai oleh pedagang yang ingin berjualan. Dengan bermodalkan 2 buah nampan plastik, Rina memajang berbagai macam model rajutan hasil karyanya sendiri. Mulai dari gantungan kunci, bros jilbab, bando, dan lainnya. Tidak hanya berdiam diri sambil menunggu pembeli, Rina juga melanjutkan kegiatan merajutnya, agar pembeli yakin bahwa barang yang ia jual adalah hasil kerajinan tangannya sendiri.
Pada suatu ketika, datanglah ibu-ibu menghampiri Rina. Ia bertanya apabila ia memesan 500 buah aksesoris rajutan tersebut apakah Rina sanggup? Rina tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Rupanya ibu tersebut ingin menjadikan aksesoris rajutan hasil karya tangan Rina sebagai cendera mata pada acara pesta pernikahan anaknya. Dengan rasa syukur yang tak henti-hentinya, Rina menyanggupi pesanan ibu tersebut. Setelah melakukan negoisasi, lalu ibu tersebut membayar uang muka terlebih dahulu. Agar Rina dapat membeli bahan-bahan yang dibutuhkannya.