Merayakan Kelulusan di Puncak Gunung Slamet
- U-Report
Kami amat sangat menikmati perjalanan kami, dan tibalah kami di Pos Satu. Sedikit melepas rasa dahaga, kami memutuskan untuk istirahat dan minum. Perjalanan kami lanjutkan hingga ke pos yang kedua. Namun, di sini kami tidak memutuskan untuk berhenti karena jaraknya dengan pos ketiga tidak terlalu jauh.
Setibanya kami di Pos Tiga, cuaca mulai berubah. Awan hitam pekat mulai menutupi langit, suara petir mulai bersahutan. Dan saya memutuskan untuk membangun tenda, menghindari hujan yang akan turun. Hujan yang begitu deras disertai hembusan angin yang cukup kencang membuat tenda tempat kami berlindung terguncang cukup kencang
Saat di dalam tenda, Abidin menyerukan agar kami membaca surah Yasin. Saya pun bergegas mengambil surah Yasin yang sudah dipersiapkan dari rumah. Di kala saya melantunkan surah Yasin, teman-teman yang lain memutuskan untuk beristirahat sejenak melepaskan lelah.
Keanehan demi keanehan pun muncul. Terdengar suara alunan musik dangdut di kala hujan lebat. Dan anehnya, kami malah mengikuti nyanyian yang entah dari mana asalnya. Namun, kami tidak menyadari kalau tidaklah mungkin di tengah hutan ada yang menggelar acara dangdutan.
Hujan mulai reda dan terdengar sura langkah kaki yang diiringi suara percakapan. Suara semakin jelas terdengar dan bayangan pun terlihat dari dalam tenda. Ternyata segerombolan pendaki yang lewat. Dan salah satu dari mereka berkata, “Permisi Mas, saya numpang lewat,” ucapnya. Saya pun menjawab dengan lantang dan sedikit bercanda, “Masih hujan Mas, buru-buru mau ke mana sih?” Dia pun menjawab, “Sudah reda kok Mas,”.
Tidak lama kemudian kami pun tertidur pulas. Saking lelahnya, kami tertidur sangat lama hingga melewatkan tujuan awal kami untuk menikmati sunrise di puncak gunung. Matahari sudah tampak jelas dan kami baru terbangun dari tidur. Setelah makan dan membereskan tenda, kami pun melanjutkan perjalanan yang tertunda akibat hujan.
Jalan setapak terus kami telusuri hingga kami tiba di Pos Empat. Di sana kami melihat ke bawah dan nampak pemukiman penduduk. Sambil menikmati pemandangan sekitar, terlihat dari kejauhan ada seorang lelaki yang berjalan menuju kami dengan pakaian yang basah dan wajah yang lusuh. Saya pun bergegas menghampiri lelaki tersebut dan bertanya, “Pak, kok sendirian yang lain kemana?” Dia menjawab, “Saya cuma sendiri Mas,” Saya pun kembali bertanya, “Bapak sudah mau turun?” Tapi dia hanya menjawab, “Iya Mas.”