Semangat Juang Pak Yadi

Bahagia di hari tua.
Sumber :
  • Pixabay/Unsplash

VIVA.co.id – Pagi itu masih gelap. Bapak Yadi, begitu panggilan akrab warga Desa Kedung Waringin memanggilnya, sudah mulai beraktivitas dengan mempersiapkan barang dagangannya. Dengan teliti, Pak Yadi menata barang dagangan di gerobak dorongnya. Mulai dari makaroni, bumbu-bumbu penyedap, plastik, serta mangkok-mangkok yang digunakan untuk berjualan.

img_title Mengenal Hendra Arifin, Pendiri HokBen yang Tinggalkan Karier sebagai Insinyur, Keputusannya Sempat Ditentang Keluarga

Bapak Yadi adalah penjual makaroni keliling. Setiap hari ia membawa ratusan butir makaroni yang telah digoreng. Ia bersyukur karena dagangannya selalu habis terjual. Untuk menjual makanan ringan itu, Pak Yadi membutuhkan kerja keras. Di usianya yang sudah tua, Pak Yadi masih dengan semangat menjajakan makanan ringan itu dari satu kampung ke kampung lainnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Awalnya, Pak Yadi menggunakan gerobak pikul. Namun, dengan usianya yang telah begitu tua, Pak Yadi membutuhkan tenaga yang lebih. Oleh karena itu, sekarang Pak Yadi menjajakan dagangannya dengan menggunakan gerobak dorong. Menurut Pak Yadi, pembelinya kebanyakan anak-anak desa atau anak-anak sekolah. “Ada yang beli Rp500, ada juga yang beli Rp1000. Satu plastik berukuran kecil dijual dengan harga Rp500,” kata Pak Yadi, Selasa (18/10) lalu.

img_title Jalan 6 Kilometer Lewati Hutan Demi Mengajar, Kisah Guru Honorer di Sikka Ini Bikin Haru

Biasanya, ia akan mangkal saat sekolah tengah istirahat atau selepas sekolah selesai. Setelah itu ia berkeliling lagi menyusuri kampung. Usia Pak Yadi kini 70 tahun, namun tak lantas membuatnya malas. Ia masih semangat mendorong gerobaknya mencari pembeli. Meski masih terlihat gagah, namun terkadang kakinya lemas dan gemetar setelah berjam-jam mendorong gerobaknya. Napasnya pun terengah-engah. “Yang penting jualan saya laku,” ujarnya.

Uang sebesar 20 ribu setiap harinya ditabung oleh Pak Yadi. Namun terkadang, uang simpanan itu terpakai untuk kebutuhan sehari-hari, seperti makan dan membeli kopi. Meski demikian, Pak Yadi tetap selalu berusaha menabung.

img_title Ikhtiar, Sabar, dan Doa: Tiga Kunci Menuju Perubahan Hidup yang Bermakna

Beruntung, setiap makan siang dan malam ada warung langganan Pak Yadi. Penjual makanan itu mengerti kalau Pak Yadi adalah orang tak mampu. Karena itu sering kali ia diberi diskon. Cukup 4000 rupiah, Pak Yadi sudah mendapatkan telur, tempe, sayur, dan nasi satu piring. Semua dilahapnya sampai habis.

Pergi merantau, Pak Yadi harus berpisah dengan cucunya tercinta yang kini tinggal dengan menantunya di Subang, Jawa Barat. Istri dan anaknya telah meninggal karena sakit 5 tahun yang lalu. Sedang menantunya menjadi buruh cuci di sana.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut