Dari Anak Jalanan hingga Menjadi Pengusaha Kreatif

Yogi Wiranata di galerinya, Yogyakarta.
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Suara azan magrib bergemuruh. Gemericik air mengiringi pria itu mengambil wudu. Setelah salat di langgar, dia menyulut rokoknya sambil masuk ke galerinya. Beberapa kali dia mengatur ulang rambutnya yang mulai berantakan. Sambil senyum-senyum dia mulai bercerita tentang galeri kerajinan kulit miliknya.

img_title 3 Jurusan di Sekolah yang Cocok untuk Anak Kreatif, Peluang Kerja Melejit di Era Digital

Sekarang dia sudah mantap di rumah. Beberapa tahun yang lalu, Yogi pergi dari rumah. Dengan modal kepercayaan diri sebagai remaja laki-laki yang bebas, dia memutuskan hidup di jalanan. Dia menjelajah sampai Surabaya, Purwokerto, dan beberapa kota di Pulau Jawa. Yogi menjadi tukang cuci piring untuk menyambung hidup di jalanan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Dulu saya jarang pulang ke rumah, paling dua bulan sekali. Sisanya saya punk-punkan,” ungkap pria 28 tahun tersebut. Saat itu, Yogi merupakan penggebuk drum dari band Kapital Destroy dan Distorsi Liar. Selama tiga tahun, Yogi hidup di jalanan. Semua keputusan itu yang membuat kuliahnya di UGM keteteran.

img_title Cahaya Manthovani Bongkar Tantangan Jadi Perempuan Muda di Industri Kreatif

Yogi memutuskan pulang ketika mendapat kabar bahwa ayahnya menderita stroke. Dia pulang sebagai anak yang hilang. Keputusannya untuk pulang mengiringi kepergian ayahnya menuju Sang Khalik. “Saya pulang karena bapak saya stroke. Mungkin beliau terlalu memikirkan nasib saya, anaknya,” ujar Yogi mengenang bapaknya.

Setelah kejadian itu, dia mulai berbenah dengan mengejar gelar sarjananya. Yogi sempat bekerja di Jakarta selama beberapa bulan, tapi ia memilih pulang ke rumah dan merintis usaha sendiri. Berbekal pengalaman mengikuti lokakarya sablonase, Yogi memulainya di rumah. Segala macam sablon, tie die, dan tas furing adalah rintisan pertamanya.

img_title Industri Kreatif Indonesia Bersinar, Karya Anak Bangsa Unjuk Gigi di Milan

Namun, usaha pertamanya kandas karena tidak ada komitmen yang kuat di antara teman-temannya. “Lha ya biasa to anak muda itu suka tidak konsisten kalo mau usaha,” jelasnya. Lewat kegemarannya memelihara burung elang, Yogi mendapat ide untuk memulai bisnis baru. Aksesori kulit penutup paruh elang menjadi awal mula ide untuk membuat galeri kulit sendiri.

“Saya belajar dari teman tentang membuat aksesori kulit, tempat beli bahan, dan alat apa saja yang perlu digunakan,” ungkap Yogi yang berencana menikah tahun ini. Demi memulai bisnis ini Yogi merogoh koceknya sangat dalam. Hampir 60 juta rupiah dia gelontorkan untuk memulai galeri kulitnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut