Perjuangan Hidup Seorang Tukang Ojek Pangkalan
- VIVAnews/Maryadi
Pendapatan yang didapat oleh Bapak Mulyadi sebesar 100-200 ribu rupiah perhari dengan berangkat dari rumah pukul 07:00 sampai 20:00 WIB. Pendapatan tersebut sebagian dia tabung guna membiayai pendidikan anaknya di sekolah. Tidak hanya untuk membiayai pendidikan tetapi pendapatan dari menarik ojek tersebut ia sisihkan juga untuk kebutuhan dapur yang selalu diberikan kepada istrinya.
Terkadang pendapatan tersebut masih kurang cukup memenuhi kebutuhan keluarganya. Di Karena harga kebutuhan pokok yang semakin melonjak. Dengan pendapatan yang tidak terlalu banyak, Pak Mulyadi bertekad supaya anaknya dapat mengeyam pendidikan yang lebih tinggi lagi, seperti ke jenjang perguruan tinggi. Agar kelak anaknya tersebut tidak bernasib sama dengan dirinya.
Selain mencari nafkah dengan menjadi ojek pangkalan, dia pun selalu mencari celah untuk melakukan pekerjaan apa saja yang dianggapnya halal untuk anak istrinya. Seperti panggilan borongan bangunan rumah, menjual barang-barang bekas, dan apa saja yang bisa mendapatkan uang pasti ia lakukan.
Istri dan anaknya merasa sangat sedih dengan perjuangannya itu. Pagi, siang, malam, mencari nafkah demi keluarga yang dicintainya. Tak kenal lelah, maupun rasa letih. “Suami saya ini bekerja keras setiap waktu demi anak dan istri tercintanya,“ ujar istrinya. Anak-anak beliau juga turut merasakan penderitaan susahnya mencari nafkah yang dirasakan oleh ayahnya tersebut.
Lewat prestasi, anak Pak Mulyadi dapat membanggakan kedua orangtuanya tersebut. Banyak sudah prestasi yang ia dapat. Seperti selalu masuk peringkat 5 besar di kelas dan mewakili setiap perlombaaan bahasa Inggris antar sekolah. Kebetulan, anak Pak Mulyadi memang fasih dalam berbahasa Inggris.
Harapan Bapak Mulyadi untuk dapat beralih ke pekerjaan lain sangatlah tipis. Dikarenakan kesempatan kerja untuk orang yang hanya memegang ijazah SD sungguh sulit. Karena itulah Pak Mulyadi ingin memberikan pendidikan setinggi-tingginya kepada empat orang anaknya. Sehingga mereka tidak merasakan perjalanan hidup seperti yang dialami orangtuanya.
Keperluan dan kebutuhan hidup yang sangat banyak sempat membuatnya merasa menyerah dalam menghadapi lika-liku perjalanan hidup. Namun sosok istri dan anaknya mampu membangun semangatnya untuk terus selalu berusaha dan bersyukur. Bapak Mulyadi merasa sangat beruntung mempunyai empat orang anak yang tidak menyulitkan kedua orangtuanya yang hidup dengan keadaan ekonomi pas-pasan. (Tulisan ini dikirim oleh Nicodimus Novianto, mahasiswa Universitas Nasional, Jakarta)