Kisah Pilu di Gunung Prau
Berkesan memang, karena sesampai di puncak langsung disambut oleh badai. Belum sempat beristirahat, belum sempat mendirikan tenda, bahkan belum sempat mencari spot untuk mendirikan tenda. Tak terbayangkan bagaimana dengan keadaan teman saya yang masih di bawah sana? Betul saja, saat tertempa badai mereka sedang berada di Jalur Pos Tiga menuju puncak. Tak Kuat, merupakan sebuah penggambaran kata untuk keadaan pada saat itu. Keadaan mendirikan tenda-tenda di tengah terjangan badai.
Deburan air hujan yang lebat ditambah suara angin yang bergemuruh, akhirnya saya menyerah. Lebih baik menghangatkan tubuh dan mengumpulkan stamina dulu daripada dipaksakan malah terjadi hal yang tak diinginkan. Tak lama saya beristirahat, salah satu kawan yang merupakan dari tim belakang melaporkan bahwa teman-teman menunggu di shelter dengan keadaan yang tidak bagus. Sialnya, ada yang terkena hipotermia. Keadaan semakin kacau, tetapi hal itu memacu saya untuk mendirikan tenda kembali.
Setelah tenda berdiri, satu per satu teman saya dievakuasi dari shelter ke tenda yang telah didirikan. Terlihat wajah murung, takut, dan menggigil di dalam shelter saat saya hendak mengevakuasi. Untungnya keadaan orang-orang tersebut masih stabil, termasuk teman-teman saya.
Salah satu tindakan paling konyol ketika saya mendengar cerita teman saya, yaitu dia terpaksa mendobrak pintu shelter yang terkunci. Konyol memang, tapi tepat. Ya, tepat. Mengapa? Dengan keadaan di tengah terjangan badai, ditambah kondisi fisik yang menurun, lebih baik untuk mencari tempat yang pas untuk beristirahat dan menghangatkan tubuh daripada melanjutkan perjalanan dan dapat menimbulkan hal yang tak diinginkan. Terbukti dengan beristirahat di shelter tersebut, banyak membantu para pendaki lain yang kedinginan dan terkena hipotermia selain teman-teman saya.
Shelter yang terbuat dari kayu dan dilapisi seng pada atapnya terlihat sangat istimewa di atas Puncak Prau itu, termasuk pintunya. Bahkan saking teristimewanya, nyawa manusia pun tak ada bedanya dengan pohon dan rumput yang pantas untuk diterjang badai. Dan kurang pantas rasanya untuk dapat menikmati alam di dalam shelter dengan tujuan berlindung dari terjangan badai.