Kisah Pilu di Gunung Prau
Pihak dari Ranger Prau menganggap tindakan menjebol pintu tersebut ialah salah. Bahkan setibanya para ranger di shelter, mereka hanya menginstruksikan untuk mendirikan tenda di sekitar halaman shelter. Di manakah hati nurani mereka saat melihat anak-anak manusia yang sedang kedinginan bahkan hampir mau mati jika mereka tak boleh beranjak ke dalam shelter untuk beristirahat sejenak dan sekadar menghangatkan tubuh mereka yang kedinginan? Tega. Kata yang pantas untuk mereka. Yang seharusnya melindungi dan mengayomi para pendaki yang sedang mengalami kesusahan.
Memang sebagian di Indonesia para ranger masih bersifat swadaya dari masyarakat. Bisa dibilang mereka sama dengan relawan. Memang berprofesi sebagai relawan itu tak mudah. Selain melelahkan, rintangan lainnya ialah tak dibayar. Mengutip dari Anies Baswedan, hal ini bukan berarti relawan tak bernilai, melainkan tak ternilai.
Tetapi cerminan kutipan Pak Anies tersebut nyatanya berbeda dengan kelakuan para relawan yang bertugas untuk mengayomi dan melindungi para pendaki di Gunung Prau tersebut. Ganti rugi, tuntutan yang mereka lontarkan kepada teman kami setibanya di Basecamp Prau.
Seharusnya ranger adalah harapan para pendaki. Saat di antara kami terkena hipotermia, bahkan sampai mau mati. Kau sebut dirimu ranger, tapi saat kami sedang dalam keadaan darurat kau datang memaki-maki, meminta uang, lalu pergi. Terserah mau kau sebut dirimu ranger, bagiku kau sangat anger. (Tulisan ini dikirim oleh Achmad Al Fiqri, mahasiswa Universitas Nasional, Jakarta)