Usaha Kerajinan Plakat Aa Edi yang Semakin Berkembang
Usaha kerajinan pembuatan plakat ini memiliki 10 karyawan. Terdiri dari lima laki-laki dan lima perempuan. Dengan senyumannya yang tulus, Aa Edi mengungkapakan bahwa dia pun masih seorang karyawan. Dia tak mau disebut sebagai seorang bos. Karena dalam benaknya, seorang bos adalah orang yang dibangga-banggakan, padahal dalam keyakinannya ia tidak boleh membanggakan diri sendiri. Jarang sekali ada seorang pemimpin yang mau merendahkan dirinya sama dengan bawahannya.
Dalam pembuatan kerajinan plakat ini memerlukan beberapa tahapan proses pembuatan. Dimulai dari proses membentuk cetakan dasar pada gambar, dilanjut pengecoran plat, dan dibentuk hingga mencapai finishing. Namun, segala proses pembuatannya memerlukan daya fokus dan kontrol yang baik hingga pelanggan atau pun konsumen puas dengan karya pada usaha ini.
Dalam menjalankan usahanya ini, dia hanya bisa berserah kepada Sang Pencipta. Sebab adanya orderan ataupun pemasukan dalam pembuatan plakat ini tergantung kondisi. Sehingga hasil yang dicapai setiap bulannya tak mempunyai target yang harus diperoleh. Dalam ungkapannya, yang terpenting dia dan keluarganya berusaha semaksimal mungkin dalam mencari nafkah.
Pekerjaan manual masih dilakukan dalam kerajinan ini. Karena jika menggunakan mesin, menurut Aa Edi, itu memerlukan biaya yang besar untuk membeli mesin tersebut. Di tempat ini merupakan kerajinan mandiri dan disesuaikan dengan pesanan. Untuk itu, tak perlu membeli mesin sebab dangan manual saja tentu harganya sudah mahal.
Hasil dari karya keluarga Aa Edi sudah sampai ke seluruh wilayah Indonesia. Terutama saat mantan Presiden RI Soeharto datang ke rumahnya untuk membuat souvenir bagi para pendiri Keluarga Berencana (KB). Dia merasa bangga dengan hasil karyanya. Tak hanya Indonesia saja, melainkan hingga luar negeri pun turut melebar kini.
Dalam lingkungannya sendiri, keluarga ini sudah terkenal dengan souvenir plakatnya. Dia menceritakan ketika dia masih bujang, baru dia saja yang membangun usaha ini. Dan dia mulai berbagi ilmu dengan anggota keluarganya. Tapi seiring dengan perkembangan zaman, sudah mulai banyak orang di sekitarnya yang mulai membuka usaha yang sama.