Bekerja untuk Membantu bukan Melanggar Lalu Lintas
Hal tersebut memang benar adanya. Sekitar 40 ribu kendaraan tercatat melintasi Gerbang Tol Ciawi, seperti dikutip di akun twitter @TMCPolresBogor. Antrean kendaraannya bahkan hingga 10 km. Pak Jamal seringkali membantu Polantas yang bertugas di dekat lahan parkirnya dalam mengatur lalu lintas jika ada kemacetan. Tidak mementingkan harapan untuk mendapat imbalan apapun dari petugas Polantas tersebut. Baginya itu juga merupakan tugasnya sebagai orang yang mendapat uang di jalanan.
Selain peduli akan kondisi jalanan, Pak Jamal juga begitu peduli terhadap keluarganya. Setiap ia pulang dari tugasnya, Pak Jamal langsung memberikan penghasilannya kepada istrinya. Selanjutnya ia datang menemui anaknya yang semuanya masih duduk di bangku sekolah. Pak Jamal membagi-bagi pula penghasilannya kepada seluruh anaknya secara merata.
Jasa seorang tukang parkir sepertinya mungkin memang tidak akan pernah dianggap besar oleh orang lain. Namun baginya, semua yang dilakukan atas dasar ikhlas akan memiliki manfaat bagi orang lain. Tak mengenal hujan, atau bahkan di saat sakit pun ia akan berusaha bekerja semaksimal mungkin selama ia bisa melakukannya.
Istrinya yang setiap hari begitu mengandalkan penghasilan suaminya tersebut selalu memberikan dukungan serta doa. “Istri dan anak saya adalah segalanya bagi saya. Merekalah yang selama ini mendukung saya dan menjadi pacuan semangat saya. Di jalanan orang tidak peduli akan kondisi saya. Saya bekerja untuk orang lain dan untuk membantu bukan untuk melanggar,” tuturnya.
Harapan Pak Jamal, jika memang ada kebijakan dari Pemerintah yang berkaitan dengan pekerjaannya sebagai tukang parkir, hendaknya disosialisasikan kepada beliau. Dan ia pun mengharapkan adanya pelatihan atau pengarahan tentang aturan-aturan lalu lintas yang ada. “Peraturan lalu lintas tentu harus kami taati. Namun kami harus tahu dan mengerti lebih dulu tentang peraturan tersebut,” tutupnya. (Tulisan ini dikirim oleh Febrian Ramadhan, mahasiswa Universitas Nasional, Jakarta)