Surat untuk Luis Milla

Luis Milla Latih Timnas Indonesia
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

VIVA.co.id – Jumat, 12 Januari 2017, PSSI secara resmi menunjuk Luis Milla sebagai pelatih baru Timnas Indonesia menggantikan Alfred Riedl. Pria kelahiran Teruel, Spanyol, 12 Maret 1966 ini ditunjuk menjadi arsitek Timnas senior sekaligus Timnas U-22. Hal tersebut tentu melengkapi jajaran pelatih Timnas kita, setelah beberapa hari sebellumnya PSSI sudah menunjuk Fahcri Husaini sebagai arsitek Timnas U-16 dan Indra Sjafrie sebagai pelatih Timnas U-19.

img_title Dukungan Luis Milla untuk Timnas Indonesia Jelang Tempur di Final

Pria Spanyol bernama lengkap Luis Milla Aspas ini boleh dibilang sebagai seorang yang sukses bertransformasi. Dari seorang pemain profesional menjadi seorang pelatih top. Ketika masih aktif bermain, selain membela CD Teruel, klub tanah kelahirannya, Luis Milla juga pernah memperkuat Barcelona, Real Madrid, dan akhirnya pensiun di Valencia pada 2001.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Karier kepelatihannya dimulai di Getafe musim 2007-2008. Milla menjadi  asisten dari mantan rekan se-timnya di Madrid dan Barcelona, Michael Laudrup. 2009 ia sukses mengantarkan Spanyol U-19 menjadi runner up EURO U-19. Dan puncaknya pada 2011, Milla Sukses mengantarkan Spanyol sebagai juara EURO U-21.

img_title Ucapkan Selamat Ulang Tahun, Luis Milla: Indonesia Sulit Dilupakan

Dengan beberapa catatan prestasinya, tentunya masyarakat Indonesia punya ekspektasi yang sangat tinggi untuk the iberian man yang terakhir menangani Real Zaragoza ini. Bukan cuma itu, Milla sendiri nampaknya punya ekspektasi besar untuk sepakbola Indonesia. “Kita (pemain dan pelatih) harus kerja keras, dan saya akan memberikan latihan-latihan seperti gaya saya melatih Spanyol dengan gaya penguasaan bola dan juga pressing ketat,” Itulah salah satu perkataan Milla ketika ia resmi ditunjuk menjadi arsitek Timnas Indonesia.

Indah bukan kedengarannya? Namun Luis Milla nampaknya harus mengetahui beberapa hal tentang kondisi sepakbola Indonesia. Ada dua hal yang menjadi catatan saya ketika Milla ingin memainkan gaya possession ball dan pressing ketat.

img_title Tukang Jagal AS Roma, Luis Milla Bela Real Madrid dan Rekor Olimpiade

Mengenai gaya pressing ketat, ini jelas membutuhkan stamina dan pemahaman rule of the game dari setiap pemain. Seperti yang sudah kita lihat, selama ini stamina selalu menjadi masalah besar Timnas kita. Kalau kita lihat di AFF 2016, jelas sekali faktor stamina pemain Timnas kita menjadi titik lemah.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut