Memperbaiki Miskonsepsi dalam Pembelajaran
VIVA.co.id – Tanpa disadari, seringkali pendidik melakukan miskonsepsi saat proses pembelajaran. Untuk itu, Badan Pembangunan Internasional Amerika melalui program Usaid Prioritizing Reform, Innovation, Opportunities for Reaching Indonesia’s Teacher, Administrators, and Students melatih fasilitator dari 11 kabupaten mitra di Jawa Timur. Konsep dasar dalam pembelajaran SD/MI dan SMP/MTs yang selama ini sering terjadi miskonsepsi, sulit untuk mengajarkan dan kesulitan mengemas dalam pembelajaran aktif.
Pelatihan tersebut bertajuk “Pelatihan untuk Pelatih Tingkat Provinsi Modul 4 dan Pendampingan untuk SD/MI dan SMP/MTs”. Kegiatan tersebut diikuti oleh fasilitator daerah dari Kabupaten Blitar, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Madiun, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Jombang, Kota Batu.
Usaid Prioritas memfokuskan pada tiga mata pelajaran. Yaitu literasi atau bahasa Indonesia, matematika, dan IPA. Miskonsepsi sering terjadi dalam pembelajaran matematika. Sulit mengajar karena kebanyakan teks berbasis fakta dan fiksi secara aktif dan keterbatasan penguasaan guru dalam mengajarkan ‘membaca permulaan’ pada mata pelajaran literasi atau Bahasa Indonesia.
Kesulitan mengajar secara aktif difokuskan pada mata pelajaran IPA. Hal ini didasarkan kondisi umum bahwa banyak guru berlatar belakang fisika, biologi, atau kimia saja. Padahal dalam topik ada ketiganya. Materi tersebut juga sering dijumpai dalam kehidupan namun kenyataannya siswa sering sulit memahami.
“Miskonsepsi yang terjadi dalam pembelajaran sering tidak disadari oleh guru. Dalam pelajaran IPA misalnya, memuat materi yang sangat banyak dan luas cakupannya sehingga siswa kesulitan untuk menyerap semua materi dengan baik. Apalagi banyak konsep dasar yang membutuhkan visualisasi/praktikum yang membantu mempermudah pemahaman konsep bagi siswa.
Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk aktif, kreatif sehingga dapat membangun pengetahuannya sendiri dari pengalaman yang diperolehnya untuk mereduksi miskonsepsi. Untuk itulah pelatihan ini dilaksanakan,” ujar Budi Kuncoro, Senior Manager for University Stakeholder and Coordination Usaid Prioritas Jakarta.
Modul IV ini melengkapi tiga modul sebelumnya yang sudah dilatihkan kepada lebih dari 30.000 SD/MI dan SMP/MTs. yaitu modul 1 PAKEM/pembelajaran kontekstual, modul 2 pendekatan saintifik, dan modul 3 keterampilan informasi.