Hoax Ancaman Indonesia yang sedang Belajar Berkomunikasi
Negara-negara yang baru belajar berdemokrasi dan berkomunikasi seperti Indonesia, jauh lebih rumit, bila dibandingkan dengan negara-negara demokrasi murni. Ada dua pilihan yang harus diambil oleh negara. Yaitu mencengkeram sekuat-kuatnya kebebasan media dan mengatur perkembangan penggunaan teknologi di kalangan warga negara seperti RRC-Bejing, atau melepaskan sama sekali perkembangan teknologi di kalangan warga negara agar masyarakat belajar sendiri terhadap literasi media.
‘’Kedua cara itu sama-sama mengandung risiko. Pertama pengalaman negara-negara yang menerapkan kebijakan represif terhadap media, contohnya RRC-Bejing, menyebabkan masyarakat menjadi terpenjara di dalam dominasi kekuasaan rezim. Walaupun kemajuan ekonomi dapat diciptakan oleh negara, namun warga negara merasa kebebasannya selalu dibayangi oleh pemerintah, sedangkan negara secara ketat mengontrol warga negaranya. Kedua membebaskan warga negara menggunakan teknologi (media), menyebabkan masyarakat berkembang bersama berbagai aspek komunikasi (media). Negara semakin sulit mengontrol masyarakat dan media menjadi alat kapitalis yang senantiasa mengontrol seluruh aspek kehidupan masyarakat,’’ tuturnya.
Dikatakan dia, selain harus membuat pilihan-pilihan di atas, negara juga menghadapi efek hoax sebagai akibat communication jammed yang berlangsung di masyarakat. Communication jammed disebabkan karena perkembangan teknologi komunikasi yang tidak bisa dikontrol lagi serta communication traffic yang sangat rumit, menyebabkan mudah bermunculan berita-berita hoax sebagai suatu tindakan konstruksi sosial sederhana, namun menjadi musuh masyarakat dan negara.
Sementara itu, para praktisi komunikasi dari berbagai universitas turut memaparkan hasil penelitiannya. Makalah tersebut nanti akan dibukukan menjadi sebuah prosiding. Dekan Fisip Unirow, Satya Irawatiningrum mengatakan kegiatan ini adalah bagian proses tanggung jawab seorang akademisi.
‘’Jadi, membuat penelitian lalu menuliskan dan mempresentasikan sudah menjadi tanggungjawab akademisi,’’ katanya. Dengan begitu, adanya Seminar dan Call for Paper ini cukup berarti bagi dunia komunikasi dan media massa. (Tulisan ini dikirim oleh Bayu, Unirow, Tuban)