Kerennya Kacamata Politik Bangsa Ini

Ilustrasi kacamata
Sumber :
  • Pixabay

VIVA.co.id – Indonesia adalah bagian dari negara berkembang di Asia, dan mayoritas penduduknya Muslim. Dalam sejarah manusia, sejak era awal peradaban sampai saat ini, kita tidak bisa melepaskan diri dari dikotomi “Negara Kuat Vs Negara Lemah”. Negara kuat akan selalu menjadi kolonialis (penjajah) dan imperialis (membentuk imperium di bawah kekuasaannya).

img_title Aktivis 98 Resolution Network: Momentum 17 Agustus Jangan Diubah Jadi Panggung Politik

Sejak abad ke-16, bangsa-bangsa baratlah yang menjadi sosok kolonialis-imperialis itu. Kita, sebagai bangsa Indonesia hanya menjadi “objek penderita” untuk memuaskan kepentingan negara-negara barat. Kekayaan negeri kita merupakan sasaran inti yang dibidik oleh negara-negara kolonialis dan imperialis tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di tengah zaman hedonisme dewasa ini, cukup rumit jika kita ingin menanyakan sudah sejauh mana partisipasi dan pengaruh politik terhadap perkembangan bangsa. Namun, kita juga harus lebih memahami bagaimana politik pada masa kini. Dalam pandangan politik, kehidupan suatu bangsa sangat bergantung kepada bagaimana keadaan kehidupan sosial politiknya.

img_title Di Depan Delegasi IRI, Cak Udin Tegaskan Regenerasi Politik PKB Bukan Sekadar Slogan

Menurut beberapa pengamat politik bangsa, ditinjau dari sudut pandang yang berbeda di antaranya adalah pengamat politik dari Petisi 28, Haris Rusly, yang sepakat dengan penulis novel dari luar yang menyatakan bahwa saat ini keadaan bangsa dan Negara seperti kodok dan kecebong.

Menurutnya, keadaan bangsa dan Negara yang sedang kita rasakan saat ini persis seperti yang digambarkan oleh Paulo Coelho tentang perilaku kodok atau kecebong dalam novel The Winner Stands Alone (Sang Pemenang Berdiri Sendiri). Coelho menulis, “Jika kodok dimasukkan ke dalam panci berisi air mendidih, maka kodok itu akan langsung bereaksi. Melompat ke luar dengan kulit terkelupas, tapi dalam keadaan tetap hidup”.

img_title Organisasi Mahasiswa Katolik Perkuat Sinergi dengan Pemerintah

Isu yang  berkembang di media beberapa bulan terakhir ini adalah tentang pemilihan kepala daerah DKI yang menimbulkan banyak kontroversi. Baik dari ormas-ormas Islam, petinggi-petinggi partai, bahkan pejabat-pejabat daerah terlibat di dalamnya yang memihak dari masing-masing pasangan calon gubernur.

Wakil Ketua DPR, Fadli Zon tidak sependapat dengan pernyataan Presiden Joko Widodo saat memberikan sambutannya pada Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 24 Maret 2017 lalu, yang meminta urusan politik dan agama dipisahkan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut