Candi Kalasan, Sebuah Penghormatan bagi Jiwa yang Bebas
- U-Report
Jadi, untuk sementara batu-batu tersebut, yang sebagiannya merupakan batu berukir yang indah hanya ditata sedemikian rupa sampai ada pasangannya. Barangkali asyiknya jadi arkeolog itu seperti bermain puzzle. Kita akan mendapatkan sebuah kepuasan saat berhasil menyusun puzzle tersebut.
Setelah puas mengitari Candi Kalasan, saya kembali ke pos retribusi dan sedikit ngobrol tentang Candi Kalasan dengan Pak Supri. Pak Supri ini orangnya sangat ramah, dan tidak segan-segan memberikan penjelasan yang sangat detil mengenai Candi Kalasan. Di depan candi ada sebuah pohon beringin yang telah roboh akibat terjangan angin puting beliung. Pohon tersebut dibiarkan saja di situ, tidak dipindahkan entah karena alasan apa.
Tetapi, menurut Pak Supri, dulu pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII, pohon beringin tersebut dikelilingi oleh sebuah sendang (kolam kecil, biasanya untuk mandi) yang bersumber dari mata air di dekat candi. Sendang tersebut akhirnya diuruk (ditutup) dan diubah jadi taman rumput. Sementara itu, mata airnya dijadikan sebuah sumur.
Sampai saat ini, banyak pengunjung dengan tujuan mistis jika mengunjungi Candi Kalasan pasti akan membawa air dari mata air tersebut. Sayang sekali, padahal sebuah sendang di bawah pohon dekat candi bisa menjadi pemandangan yang sangat indah dan mampu menarik lebih banyak pengunjung ke Candi Kalasan ini.
Obrolan kami akhirnya meluas sampai ke kehidupan pribadinya yang ternyata dulu pernah bekerja menjadi sopir bus kota. Kemudian, menjadi kuli gali candi di bawah para arkeolog, sebelum akhirnya dipasrahkan sebagai petugas penjaga Candi Kalasan.
Matahari yang tadinya tepat di atas kepalaku kini agak condong ke arah barat. Saya berpamitan dengan Pak Supri dan berjanji lain kali akan mampir lagi. Walau untuk sekadar berteduh sambil memandangi sisa-sisa kejayaan masa lalu Indonesia yang tak lekang dimakan oleh waktu. (Tulisan ini dikirim oleh abesagara)