Pancasila sebagai Ideologi Pemersatu Bangsa
- Andri Prasetiyo
VIVA.co.id – Bertepatan pada tanggal 1 Juni 2017 diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Melalui hari peringatan yang bersejarah ini, ada banyak mimpi yang harus diwujudkan dan keinginan mulia banyak mengalami hambatan. Saat ini tantangan muncul dari beberapa kasus intoleran yang bermuatan politik dan diberi bumbu suara-suara kebencian kultural berbasis ras, kelompok, dan agama.
Kemudian yang sangat mengkhawatirkan dalam perkembangan aktual, politisasi identitas bukan mengambil bentuk ekspresi politik perjuangan identitas untuk mendapatkan pengakuan dari yang lain (politics of recognition). Apa yang tengah berlangsung tidak pula tampil sebagai ekspresi politik keagamaan untuk menegakkan nilai-nilai keadaban demokrasi dan persamaan hak (civil religion).
Yang tengah kita saksikan pada ujungnya adalah komodifikasi atas kebencian berbalut identitas agama dan golongan untuk kepentingan perebutan kekuasaan dan kemakmuran. Padahal dalam sejarah penyatuan bangsa oleh tokoh nasionalis, tokoh agama, dan tokoh adat, serta tokoh-tokoh pemersatu bangsa lainnya, semua perbedaan itu disatukan dalam satu ideologi yaitu ideologi Pancasila.
Jika kita lihat dalam kondisi kekinian, dapat kita manifestasikan pada kondisis pra kemerdekaan. Masyarakat kembali tersekat-sekat oleh kepentingan sosial, ekonomi, agama dan politik. Kita harus bangkit kembali dan menyatukan sekat-sekat yang terkoyak dari permasalahan yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, sebagaimana yang tercantum dalam lima sila pada Pancasila.
Komodifikasi identitas Indonesia tentu saja tidak keluar dalam arus politik global. Ragam dan corak sosial yang tengah bergerak di tingkat global memengaruhi kecenderungan yang tengah berlangsung di Indonesia. Sebaliknya, dinamika pertarungan sosial di Indonesia menyumbangkan nuansa bagi mosaik perkembangan politik global.
Ketika dunia tengah menghadapi tantangan pasang naik politik anti-imigran dan pengentalan identitas yang memancarkan jargon keaslian sebagai efek dari realitas ketimpangan sosial, Indonesia pun tidak steril dari kecenderungan global di atas. Di Indonesia, pengentalan pemanfaatan identitas kultural adalah kombinasi dari pabrikasi atas isu keaslian yang membenturkan antara pribumi dan non-pribumi.
Antagonisme agama adalah buah dari kecemasan akibat krisis sosial. Desakan logika kepentingan oligarki elite untuk merebut kekuasaan dan mendistribusikan kemakmuran di kalangan aliansi mereka, dan perkembangan industri konsultan elektoral yang turut serta mengorganisasi politik sentimen antagonisme kultural untuk memenangkan klien mereka.