Televisi dalam Bingkai Ramadan

Program televisi.
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Televisi dianggap kotak ajaib dikarenakan kemampuannya menghadirkan realitas sosial yang terjadi di masyarakat. Hadirnya televisi sebagai saluran komunikasi massa, mampu mengoptimalkan fungsi sosial. Yaitu social surveillance, social corelations, socialization dan entertainment.

img_title Banyak yang Belum Paham, Ini Pengertian TV Digital

Jika fungsi tersebut dapat saling dapat berkonvergensi, maka medium televisi dapat menjadi pemandu dalam membimbing dan mengarahkan pemirsa yang biasa disebut khalayak. Kemampuan televisi yang mampu menggetarkan nadi kehidupan masyarakat menyebabkan kotak ajaib ini sudah dianggap instrumen pokok di setiap keluarga untuk mendapatkan informasi dan hiburan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kuatnya getaran pengaruh televisi di kehidupan sosial membuat medium televisi dianggap “agama baru”. Karena secara ritual mampu mengubah citra tentang nilai-nilai yang dimiliki masyarakat. Kuatnya sugesti yang dimainkan televisi, Walter Lippman mengasumsikan bahwa media adalah pembentukan makna.

img_title Ini Dia Pemegang Hak Siar Piala Eropa 2020 di Indonesia

Tidak hanya sampai di situ, media televisi dapat menginterpretasi berbagai peristiwa secara radikal dan dapat mengubah interpretasi orang tentang suatu realitas dan pola tindakan. Jika bingkai asumsi ini dipakai untuk menjelaskan peristiwa religius dalam bulan Ramadan ini, secara perspektif linear (posistivistik), maka kekuatan daya tarik televisi mengambil alih fungsi keagamaan dalam lingkungan keluarga dan sosial.

Itu terlihat dengan jelas dalam setiap bulan suci Ramadan. Televisi dijadikan media untuk menyebarkan simbol-simbol keagamaan dalam suasana religius. Pesan yang ditampilkan televisi dalam tema dan cerita mulai dari bentuk program perintah berpuasa, buka puasa, menjalankan salat tarawih, sampai acara santap sahur yang dikemas dalam suasana religius.

img_title Cara Pria Ini Perbaiki TV Rusak Bikin Kita Bernostalgia

Di sisi lain realitas yang ditampilkan program televisi bagaikan “cermin retak”. Di mana program religius yang ditampilkan cenderung mengeksploitasi suasana keagamaan untuk kepentingan kapitalis spiritual dengan mendewakan rating. Akhirnya, program tersebut menjadi laris manis, andalan stasiun televisi untuk mendapatkan keuntungan ekonomi.

Program mendewakan rating biasanya lebih menyuguhkan program yang jauh dari syiar Islam yang sesungguhnya. Seperti di antaranya program santap sahur berbau banyolan atau lawakan. Bahkan Ramadan tahun lalu banyak masyarakat yang kecewa dengan tayangan program televisi berbau erotis, mistik, dan kekerasan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut