Televisi dalam Bingkai Ramadan
- U-Report
Mudah-mudahan program Ramadan sekarang ini bisa lebih baik. Realitas retak lain yang ditampilkan program televisi adalah betapa selebriti atas nama Ramadan telah berubah seketika. Jika dalam keseharian para selebriti menampilkan pakaian yang digunakan sangat vulgar dan terbuka serta mengumbar auratnya, maka di bulan suci mereka tampilkan kekentalan sosok keislaman dalam busana.
Namun sayangnya, sosok kekentalan itu hanya berlangsung sesaat pula. Usai Ramadan, pakaian muslim akan ditanggalkan kembali. Belajar dari realitas Ramadan, maka ada baiknya kita simak pendapat Hoeard Beales yang mengatakan televisi menyajikan suatu gambaran tentang realitas yang distorsi. Apakah pendapat ini berlaku terhadap fungsi televisi dalam menyajikan program di bulan Ramadan?
Secara ilmiah masih perlu diadakan penelitian mendalam, apa dan bagaimana pengaruh media televisi dalam berlomba-lomba menjadi televisi relegius. Namun akumulasi fakta-fakta di lapangan, menunjukkan indikasi-indikasi program televisi selama Ramadan tahun lalu, fungsi sosialnya lebih mengarah kepada fungsi entertainment atau hiburan.
Dominasi dari fungsi hiburan ini menyebabkan ketiga fungsi cenderung diabaikan yang semestinya ketiga fungsi tersebut harus beriringan bersama-sama. Sehingga program tak hanya mendewakan rating atas nama kapitalisme spiritual semata.
Lebih penting, pemegang industri pertelevisian perlu diminta pertanggung jawaban secara sosialnya agar program yang ditayangkan di bulan suci Ramadan dapat mencerdaskan batin. Sehingga penduduk beragama Islam dapat menjalankan puasa secara khusyuk dan dapat melahirkan kembali warga negara bermodalkan keimanan yang tangguh setelah dilatih pada bulan penuh berkah ini. (Tulisan ini dikirim oleh Jusriadi, Gowa, Sulawesi Selatan)