Sekolah Tak Layak di Sumbawa

Ilustrasi sekolah tak layak.
Ilustrasi sekolah tak layak.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

VIVA.co.id – Maju tidaknya sebuah negara ditentukan oleh pendidikan. Sudah menjadi rahasia umum saat Hirosima Jepang dibombardir oleh Amerika dan hampir melumpuhkan semua sistem kehidupan masyarakatnya. Yang pertama kali dibangun oleh mereka adalah sistem pendidikannya. Dicetak generasi-generasi handal, dan kita bisa saksikan hingga sekarang Jepang termasuk negara yang maju.

Berbanding terbalik dengan negara kita tercinta ini. Bisa kita saksikan masih banyak masyarakat di kawasan tertinggal yang belum mengenyam pendidikan yang selayaknya. Bahkan, menurut analisis statistik BPS NTB, rata-rata lama sekolah (RLS) NTB masih rendah. Baru mencapai 6,79 tahun atau setara dengan kelas VII SMP. Meski mengalami peningkatan 0,08 persen dibanding tahun sebelumnya.

Hal itu dikarenakan masih banyak orang-orang di atas 25 tahun yang belum mengenyam bangku sekolah. Dikatakan mending jika putus sekolah, tapi ini belum pernah bersekolah sama sekali. Target pencapaian masih jauh,  target maksimum yang ditetapkan UNDP adalah 15 tahun. Maka, banyak upaya yang dilakukan baik itu oleh pihak pemerintah maupun swasta.

Salah satunya oleh Suchairy Arsyad, S.Pd, M,Pd, seorang pendiri SMP terpadu di daerah Koda Permai, Jorok Utan, Sumbawa, NTB. Sebagai lulusan sarjana pendidikan, dia merasa perlu berbuat sesuatu untuk pendidikan anak-anak kampung halamannya yang memiliki kondisi pendidikan sangat memprihatinkan. Terutama untuk anak-anak yang termarjinalkan seperti anak terlantar, anak-anak yatim dan duafa yang sangat sulit mendapatkan akses pendidikan.

Dengan berani dan tekad yang kuat, dia pun mendirikan SMP yang saat ini saja belum terlihat bangunan sekolah yang layak. Sekolah yang hanya memiliki satu ruangan, tak ada dinding, hanya atap saja yang menaungi sekolah itu untuk melindungi anak-anak dari panas dan hujan. Itupun hanya terbuat dari bahan seng. Lantainya masih tanah bercampur pasir. Hanya bangku belajar yang mencirikan bahwa itu adalah sekolah.

Meski begitu, anak-anak yang berjumlah 25 anak ini tetap semangat belajar. Padahal, sebagian anak harus menempuh 20 km untuk mencapai sekolah dan tak heran sebagian anak jarang sekolah karena hal tersebut.

Tapi, menurut keterangan Suchairy, jarangnya anak bersekolah tak hanya disebabkan jarak. Tidak bersemangatnya si anak bersekolah juga karena ada faktor lain. Dimana kurang kesadarannya orang tua terhadap pendidikan, sehingga sebagian anak harus membantu mereka bekerja mencari nafkah ketimbang bersekolah.