Peran Masyarakat dalam Pengawasan Peredaran Barang Palsu

Beras bermerek palsu
Beras bermerek palsu
Sumber :
  • VIVA.co.id/Bayu Nugraha

VIVA – Masyarakat Indonesia sempat digegerkan dengan serba-serbi kepalsuan. Beberapa waktu yang lalu, beredar beras palsu alias beras plastik. Sebelumnya, sudah ada fenomena susu, kentang, telur, cokelat, kosmetik, sampai ijazah palsu. Bahkan, fenomena ini diabadikan dalam sebuah lagu berjudul Alamat Palsu.

Barang-barang ini, menurut isu yang beredar, berasal dari negara Cina alias Tiongkok. Negara pemilik tembok besar dan terpanjang di dunia ini memiliki ambisi untuk menguasai perekonomian dunia. Dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan mekanisme pasar bebas, membuat negara ini semakin diuntungkan.

Tiongkok merupakan negara yang dulunya berideologi sosialisme atau komunis. Namun, kini negara ini tidak lagi murni dalam mengemban ideologinya itu. Perlahan tapi pasti, secara ekonomi Tiongkok menganut ekonomi liberal atau kapitalis. Harga-harga barang ditentukan oleh mekanisme pasar bebas. Peran negara hanya sebagai regulator yang tidak lagi berfungsi sebagai stabilator harga. Hal tersebut mereka lakukan agar mampu bersaing di bidang ekonomi dengan negara-negara industri barat.

Kemunculan sejumlah hal yang serba palsu itu tentu membuat kita bertanya-tanya, mengapa semua ini bisa terjadi? Mengapa pula kasus-kasus seperti itu terus saja berlangsung dan seolah tidak ada penyelesaiannya secara tuntas? Fenomena serba palsu ini akan terus berlangsung selama masyarakat pragmatis dalam menjalani kehidupan.

Sebagian masyarakat masih terbiasa dengan membeli barang dengan harga yang murah namun tidak memperhatikan kualitas dan kesehatan dirinya. Selain itu juga, kurang maksimalnya pengawasan pemerintah terhadap peredaran sembako terutama beras di tengah masyarakat, turut menjadi faktor yang menyebabkan hal ini terjadi.

Keberadaan beras palsu di tengah masyarakat telah banyak memakan korban. Satu keluarga di daerah Jawa Barat keracunan akibat memakan beras palsu tersebut. Gejala keracunan biasanya diawali dengan mual dan pusing. Hal ini patut diwaspadai oleh para orang tua ketika membeli beras di warung atau toko.

Munculnya fenomena beras palsu dan berbagai bentuk kepalsuan lainnya tidak lepas dari pemikiran sekulerisme yang berkembang di tengah masyarakat (memisahkan aturan agama dari kehidupan). Artinya, mereka para pelaku pembuat barang palsu tidak lagi menjadikan agama (standar halal dan haram) sebagai landasan dalam berbuat dan berperilaku. Mereka lebih mengedepankan asas manfaat daripada ajaran agama yang mereka anut.