Santri Milenial Bisa Jadi Apa Saja

Pameran Pendidikan Islam Internasional 2017
Pameran Pendidikan Islam Internasional 2017
Sumber :

VIVA – Jika dulu santri dianggap sebagai komunitas kuno yang pekerjaan sehari-harinya hanya mengaji, membaca kitab kuning, dan jauh dari kemajuan teknologi, kini image itu tak lagi berlaku. Santri di era milenial seperti sekarang tak lagi tabu melihat teknologi. Bahkan bisa meniti profesi di berbagai bidang di luar tradisi kepesantrenan seperti guru, ustaz, atau kiai.

Hal itu disampaikan Iskandar Zulkarnaen dalam talkshow Santri Digital di Era Milenial di acara International Islamic Education Exhibition (IIEE) atau Pameran Pendidikan Islam Internasional 2017 yang dilaksanakan Direktorat Pendidikan Islam Kemenag di ICE BSD Serpong, Tangerang Selatan, Rabu, 22 November 2017.

“Wawasan itu tidak ada hubungannya dengan gadget. Tetapi bagaimana kita memiliki kemauan untuk belajar. Makanya, banyak santri yang sekarang berkiprah di banyak profesi, di banyak bidang dan industri. Mereka tetap dianggap santri karena sudah pernah mondok, dan itu hal yang positif,” ungkap Zulkarnaen yang bekerja di perusahaan media digital di Jakarta.

Sebagai santri, lanjut pria yang akrab disapa Isjet, tidak ada batasan bagi santri untuk menekuni profesi apa pun. Selepas dari pesantren, santri era digital tidak harus menjadi guru atau ustaz. Pasalnya, santri juga diharapkan bisa berkiprah dalam membangun negeri.

“Kalau semua orang jadi guru, nanti bidang-bidang lain yang menguasai bukan santri. Sehingga harapan agar santri berkiprah di berbagai profesi tidak tercapai. Akhirnya santri tidak punya peran apa-apa,” tegasnya.

Iskandar juga berpesan agar kaum santri memanfaatkan kemajuan teknologi, terutama sosial media dan gadget untuk hal-hal positif dan memperluas wawasan. Dengan benteng moral yang dipelajari selama di pesantren, tidak dikhawatirkan santri akan terjerumus ke dalam hal-hal negatif dan dilarang. “Santri harus punya kebebasan berpikir, berwawasan luas. Tidak terpenjara dalam satu paradigma atau satu cita-cita saja,” tambahnya.

Di samping itu, tandas Iskandar, santri harus peduli dan tidak apatis terhadap kondisi sekitar. Dia harus mampu mengapresiasi keragaman dan perbedaan pendapat , terutama di dalam masyarakat. “Anggaplah perbedaan itu sebagai cara untuk akrab terhadap lawan bicara. Saya selalu katakan, kalau kalian banyak berantem di Facebook, berarti kalian gagal memanfaatkan Facebook sebagai situs pertemanan,” pungkasnya.