Mengenang saat Amunisi Mengamuk di Langit Cilandak
Untung saja, pada saat itu belum ramai bangunan-bangunan di sekitar lokasi Cilandak. Tidak seperti saat ini yang sudah penuh dikepung dengan mal-mal besar, pasar modern, pasar tradisional, dan pemukiman warga. Dan beruntung juga, karena peristiwa tersebut mengambil alih wilayah Cilandak pada malam hari. Bayangkan jika bencana seram itu terjadi pada pagi atau siang hari. Masih banyak warga yang beraktivitas di sekitar lokasi, yang pastinya akan lebih mengerikan dan bisa merenggut nyawa lebih banyak.
Tidak ada yang mengharapkan datangnya suatu musibah. Peristiwa nahas ini bisa saja disebabkan karena keteledoran penjaga gudang amunisi yang tidak bertanggung jawab. Atau karena kurangnya arahan dari pimpinan kepada pihak penjaga mengenai hal-hal apa saja yang haus diperhatikan di sekitar lokasi gudang amunisi.
Bencana hebat tersebut membuat pihak Marinir TNI Angkatan Laut Cilandak lebih memperhatikan aset-aset mereka, dan memperketat penjagaan di berbagai lokasi. Tidak akan ada yang mau peristiwa bersejarah tersebut terulang kembali. Karena tidak ada yang mau mengalami kerugian material yang besar, terlebih kehilangan nyawa.
Darah korban yang membasahi tanah dan jalan menjadikan pihak marinir berbenah diri agar bencana kiamat kecil ini tidak terulang. Musibah harus dijadikan sebagai guru agar kita lebih membenahi diri. Dan yang paling penting, janganlah manusia menyombongkan diri dan lupa akan kebesaran Ilahi. Karena jika musibah datang, setiap manusia akan kembali mengingat-Nya dengan memohon perlindungan-Nya. Dan yang pasti, kita semua akan kembali menghadap-Nya suatu hari kelak. (Tulisan ini dikirim oleh Angger Dwi Anggoro dan Anita Florensa Siburian, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Nasional, Jakarta)