Misteri di Balik Jembatan Stevanus Depok yang Bersejarah
Sayangnya, hingga kini, Jembatan Panus diidentikkan atau terkenal dengan kata mistis atau sarangnya para makhluk halus. Dengan kata lain, banyak orang maupun warga sekitar mengiyakan bahwa jembatan yang berdiri di atas Sungai Ciliwung ini sebagai jembatan angker.
“Dulu, ayah saya cerita kalau lewat sini di atas jam sembilan malam jangan bawa keluarga. Soalnya, nanti ada sosok Stevanus barsama istrinya sambil membawa anjing kesayangannya yang warna putih itu,” ungkap Yoyok, warga sekitar yang sudah lama tinggal di sini.
Tak dipungkiri lagi, banyak orang yang sudah lama di Depok tahu akan keberadaan dan kemistisan jembatan ini. Mungkin jembatan ini dianggap angker, atau mistis karena umur jembatan ini sudah lebih dari 100 tahun. Hebat dan anehnya, hingga sekarang masih bisa berdiri kokoh tanpa ada renovasi pada konstruksi sekalipun.
Walaupun dianggap mistis, warga tetap menghargai jembatan tersebut sebagai peninggalan bersejarah di Depok dengan mengecat ulang jembatan tersebut. Terlepas dari penampakan si Stevanus dan istrinya, jembatan ini memang pernah dijadikan tempat pembuangan mayat dan pesugihan juga.
Jembatan ini pernah menjadi tempat pembuangan mayat korban pembunuhan. Menurut warga setempat, dari jembatan ini, ada dua lelaki tak dikenal melempar karung ke Sungai Ciliwung. Lalu, penduduk setempat curiga kalau karung itu berisi mayat. Kecurigaan itu semakin tebal setelah polisi memastikan cairan merah yang tercecer di jembatan adalah darah manusia. Darah itu menetes dari dalam karung yang dibuang dua lelaki tadi.
Tak hanya itu, Jembatan Panus kadang juga dipakai sebagai tempat pesugihan atau sajen untuk tumbal. Sesekali ada beberapa orang yang membawa sajen seperti kelapa dan baju untuk dibuang ke sungai Jembatan Panus. Warga menganggap mereka-mereka yang datang ke jembatan ini untuk memberikan pesugihan kepada makhluk halus.
Selain itu, menurut cucu Stevanus sendiri yang menjadi saksi sejarah mengungkapkan, pada era 1980-an, beredar cerita di kalangan masyarakat mengenai pendekar gaib berbaju hitam. Saat banjir atau air Ciliwung naik, ada beberapa warga yang kerap melihat penampakan empat pendekar berbaju hitam muncul di sekitar sungai. Namun, saat dilihat ulang, pendekar itu sudah hilang.