Kisah Mbah Punilah, Kuli Panggul di Pasar Pondok Labu

Ilustrasi pedagang cabai di pasar.
Ilustrasi pedagang cabai di pasar.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar

VIVA – Wajahnya selalu tampak gembira, tak pernah terlihat perasaan sedih. Senyum ramah dan wajah riang selalu diperlihatkan kepada semua orang. Tak pernah dia meminta belas kasihan dari orang lain. Hari-harinya dijalani dengan penuh semangat. Tak pernah dia mengeluh apalagi  berputus asa.

Dia selalu menjalankan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh. Meskipun banyak orang mengatakan pekerjaan  itu sangat rendah dan tidak pantas dilakukan oleh mereka. Namun baginya, apapun pekerjaannya, harus selalu dijalankan dengan sebaik mungkin.

Ya, inilah sekilas tentang sosok Mbah Punilah yang sehari-harinya bekerja sebagai kuli panggul di Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan. Mbah Punilah adalah seorang ibu berumur 75 tahun yang mempunyai 5 orang anak dan 15 orang cucu. Adapun suaminya hanya seorang buruh tani yang penghasilannya tidak menentu.

Mbah Punilah, begitulah orang-orang menyebutnya. Mbah Punilah berasal dari Kulonprogo, Yogyakarta. Ia memiliki seorang suami yang berprofesi sebagai petani. Untuk membantu suaminya, wanita yang sudah berusia 75 tahun tersebut memilih berprofesi sebagai kuli panggul di Pasar Pondok Labu demi menghidupi 5 orang anak dan 15 orang cucunya.

Mbah Punilah rela bekerja sebagai kuli panggul demi mencukupi semua kebutuhan keluarganya. Mulai dari makanan yang dimakan setiap hari, biaya untuk beli pakaian, dan lain-lain. Hampir semuanya ditanggung oleh Mbah Punilah.

Walaupun penghasilan Mbah Punilah setiap harinya tidak seberapa dan tidak menentu. Dengan usia yang sudah tidak muda lagi, tenaga yang sudah tidak seperti dulu lagi, dan tubuh yang renta, namun Mbah Punilah tetap dengan semangat menjalani pekerjaannya sebagai kuli panggul di pasar.

Mbah Punilah bekerja di Pasar Pondok Labu yang ada di Jalan Pasar Pondok Labu Raya, Jakarta Selatan. Setiap hari, Mbah Punilah berangkat dari rumahnya menuju pasar tempat dia bekerja dengan berjalan kaki. Mbah Punilah bekerja mulai dari pukul 09.00 sampai 16.00 WIB. “Ya enggak tentu. Dalam sehari kadang-kadang dapat Rp25 ribu,” ujarnya.