Kisah Mbah Punilah, Kuli Panggul di Pasar Pondok Labu
- VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar
Ia sudah bekerja sebagai kuli panggul sejak berusia 15 tahun. Walaupun Mbah Punilah bekerja sebagai kuli panggul, namun ia tidak pernah merasa risih atapun malu. Mbah Punilah selalu bersyukur kepada Yang Maha Kuasa karena di usianya yang sudah 75 tahun ini masih kuat menjadi kuli panggul. Demi anak-anaknya dia rela melakukan pekerjaan apapun. Yang penting baginya adalah halal.
Saat ini, Mbah Punilah dan suaminya hanya bekerja keras dan terus menabung untuk masa depan anaknya. Karena bagi beliau, umur tidak ada yang tahu. Hari ini ia bisa bekerja sebagai kuli panggul, tapi tidak tahu apa yang terjadi pada hari esok.
Banyak orang baik yang sering menolong Mbah Punilah. Tetangganya sering memberikan makanan bahkan uang sedekah pun pernah didapat oleh Mbah Punilah ini. Tapi tekadnya tetap bulat, ia tak mau hanya mengharapkan pemberian orang lain. Beliau tetap bekerja sebagai kuli panggul demi memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
Banyak orang di luar sana yang menjadi pengemis, padahal jika kita lihat fisiknya masih sehat, usianya masih muda tetapi malas bekerja. Mbah Punilah tak ingin menjadi seorang peminta-minta. Baginya, itu sesuatu yang sangat memalukan.
Lebih baik bekerja sebagai kuli panggul yang upahnya tak seberapa, tetapi halal, ketimbang menjadi orang minta-minta seperti pengemis yang ada di lampu merah. Baginya, jika masih mampu mencari pekerjaan, maka bekerjalah. Jangan menyusahkan orang lain. “Jalani pekerjaan itu dengan hati yang ikhlas, maka pekerjaan tersebut tidak akan terasa berat,” tutup Mbah Punilah. (Tulisan ini dikirim oleh Dina Chairina, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Nasional)