Relevansi Program Digitalent di Tengah Meningkatnya Gelombang PHK

Ilustrasi Pelatihan Digitalent. Foto: Christina Morillo from Pexels: (https://www.pexels.com/photo/two-women-looking-at-the-code-at-laptop-1181263/)
Sumber :
  • vstory

(Artikel opini ini ditulis oleh Bayu Pangestu)

img_title Kabar Gembira untuk Timnas Indonesia: Bintang Muda Belanda Mulai Kasih Sinyal Ingin Dinaturalisasi Emil Aman di Como,

VIVA – Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang melanda sektor teknologi domestik dan global sepanjang 2024 adalah sinyal bahaya yang tak bisa diabaikan. Ketika perusahaan startup melakukan efisiensi brutal dan AI mulai mengambil alih pekerjaan rutin, narasi kebutuhan 9 juta talenta digital yang diproyeksikan Bank Dunia dan McKinsey menjadi ambigu. Inilah mengapa kita harus menguji relevansi program pengembangan talenta digital pemerintah, seperti Digital Talent Scholarship (DTS) Kominfo. Topik ini urgen diangkat karena kita berada di titik transisi dari era euforia pertumbuhan ke era efisiensi dan kualitas.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Program DTS, dengan target 100 ribu lulusan per tahun di bidang Cyber Security, AI, dan Cloud Computing, adalah upaya monumental. Namun, tantangannya adalah mismatch keterampilan (skill mismatch). Pasar kerja tak lagi hanya butuh talenta, melainkan talenta yang sangat spesifik dan efisien.

img_title Kaltim Masih Panas, BMKG Ingatkan El Nino Menguat dan Puncak Kekeringan September-Oktober

Meskipun Survei Analisis Dampak DTS menunjukkan bahwa program ini sukses meningkatkan kompetensi peserta dan memberikan sertifikasi global dengan tingkat kelulusan yang tinggi (sekitar 80% untuk FGA pada 2023), hal ini belum menjamin penyerapan kerja yang mulus. Data internal ini membuktikan kualitas pelatihan dasar, tetapi tidak menjawab kebutuhan spesifik industri. PHK adalah cermin dari pergeseran standar kompetensi. Pekerja kini harus memiliki keahlian adaptif dan multi-skilled untuk menghindari otomatisasi. Program pelatihan harus bergerak cepat dari mengajarkan hard skill umum ke penekanan pada kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah (problem solving) yang tak bisa digantikan AI.

Kehadiran AI generatif memaksa standar kompetensi melompat tinggi. Pekerjaan level awal yang biasanya diisi lulusan fresh graduate kini bisa dilakukan oleh AI. Ini berarti DTS harus mengajarkan cara mengelola dan menjadi creator AI, bukan sekadar user teknologi.

img_title Bukan Cuma Bunga Mahal, Ini yang Bikin Kredit Motor Listrik Masih Belum Gampang

Selain itu, masalah kesenjangan akses dan persebaran kesempatan juga menjadi sorotan. Peluang kerja digital masih terkonsentrasi di kota besar. Walaupun pelatihan daring, alumni di luar Jawa sering menghadapi kendala dalam mengakses pekerjaan bergengsi dan magang. Platform Diploy milik DTS adalah langkah maju, tetapi upaya menjembatani akses ke daerah perlu lebih agresif.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut