Soeharto di Antara Kontribusi dan Kontroversi
- Dok. Istimewa
(Artikel Opini ini ditulis oleh Roland Gunawa, Penulis dan Pegiat Literasi Pesantren)
VIVA  –Sejarah perjalanan bangsa Indonesia tak bisa tersisa dari nama Soeharto . Sejak zaman penjajahan, perlawanan terhadap penjajahan, kemerdekaan, dan pasca kemerdekaan, sosoknya tak tergantikan. Hingga akhirnya ia dipercaya menjadi presiden Republik Indonesia kedua menggantikan Presiden Sukarno, bapak revolusi dan sang proklamator.Â
Sumber : Istimewa
Soeharto adalah tokoh yang tidak sedikit kontribusinya bagi bangsa Indonesia. Pada saat yang sama, Soeharto juga merupakan tokoh tak lepas dari kontroversi. Belakangan nama Soeharto kembali menjadi perbincangan terkait dengan usulan namanya menjadi salah satu Pahlawan Nasional. Pro dan kontra pun terjadi. Sebagian kalangan setuju, dan sebagian lagi tidak setuju bahkan menolak. Di sini, sangat penting memberikan pengetahuan masyarakat yang seimbang antara kontribusi dan kontroversi dari sosok Soeharto.
Kontribusi
Kontribusi Soeharto dalam menghadapi dan menyelesaikan kemelut bangsa. Pertama, serangan 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, dan Jepang menyerah lalu pergi meninggalkan Indonesia. Pada tahun 1949, Belanda dengan dukungan sekutu datang ingin kembali menjajah Indonesia. belanda menduduki Surabaya, Yogyakarta, dan yang lain. Di Yogyakarta, Belanda mendapat perlawanan keras dari tentara Indonesia.Â
Jenderal Sudirman menunjuk Soeharto sebagai komandan perang untuk melakukan serangan terhadap pasukan Belanda yang telah menduduki Yogyakarta. Dengan strateginya yang jitu, Soeharto berhasil mengecoh pasukan Belanda.Â
Dalam pemahaman Belanda, tentara Indonesia atau gerilya biasanya menyerang di malam hari. Sehingga pasukan Belanda selalu siaga penuh pada malam hari. Sedangkan pada pagi hari mereka beristirahat dan agak lengang. Ternyata Soeharto memutuskan penyerangan di pagi hari. Sebuah serangan tak terduga. Serangan tentara Indonesia yang dikomandoi Soeharto berhasil memukul mundur dan mengalahkan pasukan Belanda hanya dalam waktu 6 jam.Â
Tak dapat disangkal bahwa Soeharto adalah sosok yang mempunyai peran penting dan menentukan dalam mengusir penjajah. Pasca perang 6 jam itu, Belanda menyerah.
Kedua, operasi Mandala merebut Irian Barat—yang kemudian diganti dengan nama Papua. Pada tahun 60-an, Irian Barat masih berada dijajah Belanda. Soekarno merasa kemerdekaan Indonesia masih kurang sempurna selama Irian Barat belum bisa dimerdekakan. Dari situ, Soekarno mengerahkan segala daya upaya agar Irian Barat bisa lepas dari tangan Belanda dan masuk ke dalam pangkuan Indonesia. Selain menggunakan pendekatan diplomasi internasional, meminta dukungan dari negara-negara kuat khususnya AS, juga melakukan pendekatan dengan menggunakan peperangan. Dalam pendekatan perang ini, Soekarno memberikan kepercayaan kepada Soeharto untuk memimpin penyerbuan ke pasukan Belanda yang masih menduduki tanah Irian Barat.Â