Soeharto di Antara Kontribusi dan Kontroversi
- Dok. Istimewa
Menurut Anhar Gonggong, sejarawan Indonesia, menyatakan bahwa Bung Karno berhasil melobi Presiden AS John F Kenedi untuk mendukung Indonesia dengan mengambil Irian Barat sebagai kesatuan dari NKRI. AS meminta Belanda agar meninggalkan Irian Barat. Pada saat yang sama, pasukan tentara Indonesia yang dikomandani Soeharto terus melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda di Irian Barat. Berdasarkan pendekatan komprehensif diplomasi dan perang, akhirnya Belanda menyerah dan meninggalkan Irian Barat. Lalu Irian Barat resmi terintegrasi dengan NKRI.
Ketiga, penyelesaian G 30 S PKI. Lepas dari beragam penafsiran atas peristiwa G 30 S PKI, ada tiga tokoh yang pada saat itu cukup menonjol dan terlibat aktif dalam menyelesaikan peristiwa itu, yaitu Jenderal Abdul Haris Nasution, Sarwo Edi, dan Soeharto. Pada saat itu, PKI adalah dalang yang membantai 7 jenderal dalam asumsi dan informasi yang berkembang. Jasad 7 Jenderal itu ditemukan di lubang buaya. Yang terlibat diseret ke konferensi Mahmilub. Gelombang massa berdemo menuntut bubarkan PKI, dan semua yang terlibat di-Mahmilub-kan, bahkan Bung Karno sekali pun.
Dalam catatan sejarah—yang kembali disampaikan oleh Mahfudz MD dalam salah satu ceramahnya—bahwa Soeharto berbicara kepada Bung Karno agar membubarkan PKI. Jika Bung Karno bersedia membubarkan PKI, maka presiden masih tetap dipegang Bung Karno, dan Soeharto akan meyakinkan massa bahwa tuntutannya telah dipenuhi. Tetapi ternyata Bung Karno tidak mau membubarkan PKI, yang membuat Soeharto memilih pilihan taktis untuk menyelamatkan kondisi bangsa, yaitu menyarankan agar presiden digantikan oleh Jenderal AH Nasution untuk sementara. Nasution menolak, karena dalam kondisi kritis presiden harus dari Jawa, sedangkan dirinya adalah orang Batak. Akhirnya Soeharto menjadi presiden sementara. Soeharto bersedia menjadi presiden hanya 1 tahun saja sebelum mengadakan Pemilu. Setelah pemilu, Soeharto tidak bersedia lagi menjadi presiden dan presiden dikembalikan lagi ke Bung Karno.
Menurut resmi, Bung Karno diamankan dan diistirahatkan di rumahnya untuk menghindari amuk massa, sampai akhirnya wafat dengan tenang.
Kontribusi Soeharto pasca G 30 S PKI adalah stabilitas keamanan dan pemulihan ekonomi. Keberhasilan Soeharto dalam menyelesaikan G 30 S PKI. Sehingga dikatakan bahwa,Soekarno penggali Pancasila dan Soeharto penyelamat Pancasila.