Prahara Korupsi dan Zionisme di Bumi NU
- Dok. Pribadi
Munas NU di Pondok Gede 2002 memutuskan bahwa jika koruptor dari pejabat negara meninggal dunia maka hendaknya tidak dishalati; Munas NU di Kempek Cirebon 2012 memutuskan bahwa jika koruptor tidak jerah maka boleh diterapkan hukum mati, harta hasil korupsi disita negara dan tidak boleh mencalonkan diri lagi sebagai pejabat publik; Muktamar ke-31 Jombang memutuskan bahwa koruptor harus diberi sanksi moral dan sosial, dimiskinkan, dan diberi hukuman yang berat.
Diferensiasi Gus Dur dan Gus Yahya
Dalam forum Bahtsul Masail di Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon, para kiai yang hadir juga mendiskusikan tentang bahwa KH. Yahya Kholil Staquf (Gus Yahya) dalam menakhodai PBNU mengusung jargon “Menghidupkan Kembali Gus Dur”. Pertanyaannya, apakah Gus Yahya benar-benar “menghidupkan” kembali Gus Dur secara serius atau hanya klaim sepihak?
Untuk menjawab pertanyaan itu, para kiai yang hadir menguji letak perbedaan dan persamaan antara Gus Dur dengan Gus Yahya dalam langkah-langkah dan kecenderungan mereka dalam konteks relasi dengan Yahudi-Israel. Adapun perbedaan-perbedaan di antara Gus Dur dan Gus Yahya dalam konteks relasi dengan Yahudi-Israel sebagai berikut;
Pertama, Gus Dur berjejaring dengan kalangan Yahudi moderat, di antaranya Shimon Peres. Shimon Peres seorang dari Partai Buruh memiliki pandangan mendukung adanya solusi dua negara (two states solution) yang damai, Israel dan Palestina. Perjanjian Oslo tentang solusi dua negara itu dilakukan ketika Partai Buruh berkuasa di Israel.
Gus Dur juga mengkritik dan tidak setuju dengan Partai Likud yang berorientasi kanan dan konservatif. Partai Likud tidak menghendaki adanya solusi dua negara, Israel dan Palestina. Mereka hanya ingin ada negara Israel. Di antara tokoh politisi Partai Likud adalah Mantan Perdana Menteri Ariel Sharon dan Benjamin Netanyahu, Perdama Menteri Israel saat ini.
Sedangkan Gus Yahya berjejaring dengan kalangan Yahudi radikal yaitu Benjamin Netanyahu dari Partai Likud melalui perantara Charles Holland Taylor. Video pertemuan Gus Yahya dengan Benyamin Netanyahu terus viral sampai hari ini.
Hal ini menunjukkan bahwa Gus Dur dan Gus Yahya berbeda dan bahkan bertolak belakang. Gus Dur berjejaring dengan kalangan Yahudi moderat yang sama-sama memperjuangkan terwujudnya dua negara yang damai sebagaimana arah kebijakan negara Indonesia yang pernah disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto di PBB.
Sedangkan Gus Yahya berjejaring dengan kalangan Yahudi radikal yang tidak menginginkan adanya dua negara damai, Palestina dan Israel, melainkan hanya mengingingkan negara Israel saja dan tidak mengakui negara Palestina. Hal ini jelas bertentangan dengan arah kebijakan negara Republik Indonesia.