Orang Aussie Mencari Mbah Moen
- vstory
Setengah jam berlalu, tak tahan panas, saya ingin berteduh menuju tenda arah pintu masuk makam. Belum sampai tenda, sudah datang kerumunan orang menandu keranda jenazah berselimut biru.
"Bukan. Bukan," ujar seseorang menjelaskan kalau jenazah yang diusung ini bukan Mbah Moen. Jenazah betutup kain biru itupun berlalu ditandu orang-orang arab yang ada di situ.
Tak lama berselang, dari arah pintu masuk kembali muncul rombongan penandu jenazah. Kali ini jumlahnya lebih banyak. Berselimut kain hitam jenazahnya. Tak salah lagi. Ini dia yang dinanti. Kami yang dari tadi berdiri menyongsong menjemput keranda. Baru saja tangan ini menyentuh pinggir keranda, tiba-tiba berhenti.
"Ini kesempatan terakhir. Bagi yang ingin menyalatkan Mbah Moen silahkan," ujar seseorang bergamis putih berpeci haji. Berjamaah, kami pun menyalatkan Mbah Moen.
Alhamdulillah, Allah beri kesempatan kami yang tak sempat ikut menyalatkan di Masjidil Haram, selepas dzuhur tadi. Pengalaman pertama salat jenazah di pemakaman, mengantar Almaqhfurlah, Mbah Moen. Sugeng kundur Mbah Moen.
Selaksa doa terpanjat bukan hanya dari kami dari Indonesia, murid-muridmu di negara lain juga berduka dan mengantarmu dengan doa. Sugeng kundur Mbah Moen...(Ahmad Muhibbuddin, Alumni Madrasah Aliyah Program Khusus Jember dan UIN Syahid Jakarta)