(K)etimpangan dan Recovery(K)
- vstory
Bila merunut sejarah, pada masa Orde Baru ketimpangan pengeluaran penduduk relatif rendah. Hal ini terlihat dari nilai rasio gini yang hanya berkisar di antara 0.32-0.35. Kondisi ini berbeda dengan ketimpangan pasca krisis ekonomi yang langsung melebar dengan nilai rasio gini berkisar diantara 0.35-0.42. Ketimpangan di Indonesia mulai mengalami perbaikan sejak 6 tahun terakhir. Sebagai gambaran, pada September 2014 rasio gini Indonesia mencapai 0,414, nilai gini tersebut terus turun hingga pada September 2019 hanya mencapai 0,380.
Lain cerita pada saat pandemi, ketimpangan Indonesia langsung bergegas naik walaupun dengan nilai yang belum terlalu besar. Pada September 2020 rasio gini Indonesia telah mencapai 0,385 dari sebelumnya pada September 2019 yang hanya 0,380. Memburuknya ketimpangan ini diakibatkan oleh kenaikan pangsa pengeluaran golongan 20% ekonomi atas pada September 2020 yang mencapai 46,22 % atau naik 0,86 persen poin dibandingkan September 2019.
Pada kondisi normal, sebenarnya ketika ekonomi turun akan dapat dirasakan di setiap sektor dan elemen demografis, begitu pula sebaliknya ketika ekonomi pulih. Pola pemulihan K yang cenderung divergen sebenarnya berasal dari segmentasi sosial dan ekonomi yang sudah ada yang kemudian diperburuk oleh resesi atau bencana ekonomi. Pemulihan berbentuk K ini seakan memecah ekonomi, yang kemudian memperlebar kesenjangan antara mereka yang berhasil dan yang tidak. Pada akhirnya, pemulihan berbentuk K membuat masalah ketimpangan ekonomi yang ada menjadi jauh lebih buruk.
Segmentasi Sektoral
Secara sektoral, perbedaaan pola recovery juga mulai terlihat di perekonomian Indonesia. Ada sektor yang tumbuh pesat, ada pula yang mempunyai kecenderungan terus terpuruk. Pada tahun 2020, sektor informasi dan komunikasi yang menjadi media interaksi sosial dan transaksi bisnis di masa pandemi mampu tumbuh pesat diangka 10.58 persen.
Begitu pula sektor kesehatan yang menjadi ujung tombak penanganan pandemi mampu tumbuh 11.6 persen.
Selain itu juga terdapat sektor pertanian yang di luar dugaan mampu tumbuh 1.75 persen sekaligus mampu menahan kejatuhan ekonomi nasional tidak terlalu dalam. Selain ketiga sektor tersebut hampir semua mengalami kontraksi terutama sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang terkontraksi sebesar -10.22 persen. Sektor ini sangat terpukul akibat kebijakan pembatasan sosial sehingga diperkirakan membutuhkan waktu cukup lama untuk pulih.