Guru, Sang Penghasil Generasi Emas

Ilustrasi Guru yang Sedang Menjelaskan Pelajaran Kepada Muridnya. Sumber: unsplash.com
Sumber :
  • vstory

VIVA – Tiap negara memiliki berbagai macam permasalahan, mulai dari permasalahan di bidang ekonomi maupun sosial. Salah satu permasalahan yang memiliki dampak multiplier adalah sumber daya manusia yang kurang memadai. Meskipun memiliki sumber daya alam yang melimpah namun bila tak diiringi sumber daya manusia yang mumpuni maka akan sia-sialah sumber daya alam tersebut.

Bagaimana cara meningkat kualitas sumber daya manusia ini? Senjata ampuh yang digunakan adalah pendidikan. Pendidikan merupakan alat jitu yang dipakai untuk mendongkrak suatu negara dari negara terbelakang menjadi negara maju.

Pernyataan ini sejalan dengan strategi yang dilakukan Jepang ketika negaranya porak-poranda dihantam bom Nagasaki Hiroshima 76 tahun silam. Alih-alih mengumpulkan pasukan untuk melawan balik, kala itu Kaisar Hirohito mengumpulkan guru yang masih hidup. Kaisar Hirohito meyakini bahwa gurulah faktor penting untuk memulihkan kondisi Jepang. Dan pada akhirnya, Jepang kembali berjaya dan menjadi salah satu negara maju yang diperhitungkan dunia.

Tepat hari ini, Hari Guru Nasional kita peringati tiap tahun mengingatkan kita bahwa guru merupakan kunci yang digunakan untuk membuka peradaban. Lewat tangan gurulah, generasi emas penerus bangsa dihasilkan.

Hari Guru Nasional

Hari Guru Nasional

Photo :
  • Dok.kemendikbud

Hari Guru Nasional menjadi bahan bagi kita untuk introspeksi dan mengingat jasa-jasa pahlawan tanpa jasa ini. Pahlawan tanpa tanda jasa yang disempatkan di bahu guru sebenarnya mengandung makna ironi. Pahlawan pastilah seseorang yang berjuang bagi orang lain bahkan rela mengorbankan dirinya sendiri. Tanda jasa berarti tidak mendapat apresiasi dan pengakuan.

Guru sebagai pahlawan berjuang mencerdaskan muridnya, namun tak mendapat apresiasi dan pengakuan. Meski begitu, amanat mencerdaskan kehidupan bangsa yang diemban guru kita merupakan tugas mulia sekaligus tugas berat.

RUU Sisdiknas: Angin Segar bagi Tenaga Kependidikan?

Pepatah lain mengatakan guru kencing berdiri, murid kencing berlari memiliki makna bahwa guru menjadi agen teladan muridnya. Guru berkualitas akan menghasilkan murid berkualitas, dan murid berkualitas akan menghasilkan generasi penerus bangsa yang juga berkualitas. Beberapa upaya yang pemerintah lakukan untuk meningkatkan kualitas guru.

BPS mencatat, persentase guru layak mengajar mengalami kenaikan dari 89,33% menjadi 91,76%. Kelayakan guru untuk mengajar ini dihitung berdasarkan indikator jumlah guru yang berpendidikan minimal D4. Tingginya angka guru layak mengajar menjadi indikasi bahwa guru semakin berkualitas. Walaupun masih banyak indikator lainnya, fakta tersebut menjadi angin segar bagi kita dan kita patut bersyukur.

Menelisik Sisi Keunggulan RUU Sisdiknas

‘Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan’ merupakan tema Hari Guru Nasional tahun ini. Tema ini mengandung makna bahwa guru merupakan pekerjaan yang membutuhkan ketulusan, kesabaran, dan pengabdian.

Di masa pandemi Covid-19 yang menghantam keras dunia, menjadikan guru harus beradaptasi dengan situasi yang dahulu tak pernah terbayangkan. Masa ini memaksa kita semua termasuk guru untuk bisa bersahabat dengan teknologi.

Rekonstruksi Kesejahteraan Guru Melalui RUU Sisdiknas

Penggunaan teknologi pada proses mengajar sekarang seakan menjadi momok menakutkan bagi guru-guru angkatan "sepuh" kita. Mereka yang terlahir jauh dari kemajuan teknologi dipaksa seirama dengan angkatan muda yang melek teknologi. Meski begitu, sebagai learning agent mereka harus siap pada perubahan besar ini dan tidak menjadikannya sebagai halangan. Kami pun akan belajar. Itu kata mereka.

Hal ini menjadikan guru bukan hanya sebagai air dan murid sebagai gelas. Guru dan murid harus sama-sama belajar sama-sama mengajar dengan tujuan memulihkan pendidikan meskipun dengan keterbatasan.

Pada akhirnya, proses belajar mengajar online ini telah berlangsung selama hampir dua tahun. Walaupun dengan tertatih-tatih semua pasti bisa kita hadapi bersama dengan sinergis dan asas gotong royong yang kita miliki.

Dalam keadaan yang sulit seperti sekarang, momentum peringatan Hari Guru Nasional membuat kita menyadari peranan guru yang begitu sentral dan krusial. Situasi pandemi menjadikan guru berupaya keras mencerdaskan bangsa dalam kondisi apapun. Karena maju dan mundurnya suatu bangsa di masa depan, bergantung pada kualitas murid yang akan menjadi generasi penerus. Kualitas merekalah yang akan menentukan arah kemajuan bangsa.

Meskipun banyak permasalahan dalam dunia pendidikan, namun mari kita ingat jasa guru yang mengajar dan membimbing segala potensi yang kita miliki dengan penuh kesabaran. Merekalah pahlawan kita. Selamat Hari Guru Nasional. (Dita Christina, PNS di Badan Pusat Statistik)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.