Pidato Wajah dan Fisik di Gelora Bung Karno
- vstory
VIVA – Banyak pertanyaan yang muncul di benak saya setelah menyaksikan relawan pendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menghadiri acara Nusantara Bersatu di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Sabtu (26/11/2022). Pertama: Untuk apa relawan Joko Widodo berkumpul dan mengundang presiden berpidato? Kedua: Apakah ini ada kaitan dengan konsolidasi menjelang 2024? Pertanyaan itu, mungkin ditanyakan pula oleh sebagian masyarakat.
Sebagaimana biasanya dalam acara relawan yang dihadiri oleh Presiden, teriakan “tiga periode” dan “Ganjar presiden” selalu mewarnai suasana, selebihnya hanya tepuk tangan dan hidup Pak Jokowi. Bagi saya, pertemuan di GBK itu bagian dari upaya tiga periode dan atau ganjar presiden. Bisa juga nanti berujung pada isu Ganjar-Jokowi. Itulah yang diinginkan relawan.
Menariknya justru yang geram dengan kegiatan relawan itu adalah PDI-Perjuangan. Melalui sekretaris Jenderal-nya Partai pengusung Jokowi itu memberikan kritik yang cukup menohok bagi para elit-elit relawan yang memanfaatkan Jokowi.
“Kebaikan Pak Jokowi dimanfaatkan oleh elit-elit relawan untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya," kata Hasto Kristianto.
Bagi saya, kritik Hasto ini harus dipertanyakan. Apakah tidak salah mengatakan relawan memanfaatkan Jokowi? Jangan-jangan sebaliknya, Jokowi sedang memanfaatkan relawan untuk konsolidasi pilpres 2024? Atau kedua-duanya sedang saling memanfaatkan? Kalau keduanya saling memanfaatkan, maka Jokowi akan menjadi presiden relawan saja.
Semua itu bisa saja terjadi, bahkan keberadaan relawan sekarang sudah melampaui eksistensi partai pengusung Jokowi di Pilpres 2019. Jokowi lebih sering hadir dan memberikan arahan kepada relawan daripada partai pengusung. Artinya, Jokowi nyaman dengan relawan itu, ketimbang partai politik.
Dengan modal relawan ini partai pengusung ditempatkan dalam posisi kelas dua di hati Jokowi. Mungkin karena Jokowi telah memberikan partai-partai ini posisi di kementerian, jadi Jokowi sudah menganggap semua partai telah diberi “kue kekuasaan”. Sementara itu, di partainya sendiri, dia hanyalah “petugas partai” tanpa jabatan struktural, tidak lebih dari itu.
Bisa saja partai tidak menganggapnya sebagai “kader istimewa”, maka Jokowi mencari sumber legitimasi lain sebagai “antitesa” bagi partai-partai politik lebih khusus partai pengusungnya.
Terlepasa dari kontroversi antara relawan yang sedang menyanjung Jokowi, seperti Kata Hasto “Asal Bapak Senang (ABS)”, PDIP sebagai partai pengusung yang sedang gamang dan Jokowi sebagai presiden yang sedang bergeliat, publik membaca, semua itu hanyalah perebutan pengaruh.
Mari Fokus pada Wajah dan Fisik
Menarik dalam pertemuan itu, ada pidato mengenai wajah, rambut dan fisik. Bagi Jokowi memilih pemimpin itu adalah pemimpin yang kerut wajahnya, yang putih rambutnya, ditambah “karena memikirkan rakyat”.
“Perlu saya sampaikan, perlu saya sampaikan, pemimpin yang mikirin rakyat itu kelihatan, dari mukanya itu kelihatan, dari mukanya itu kelihatan, banyak kerutan di wajahnya karena mikirin rakyat. Ada juga, ada juga yang mikirin rakyat sampai rambutnya putih semua, ada. Ada itu,” Kata Jokowi disambut Ganjar…Ganjar…Ganjar oleh relawan.
Dalam sahutan “Jokowi tiga periode” dan “Ganjar presiden” di depan acara relawan Nusantara Bersatu itulah Jokowi berpidato. Sebenarnya yel-yel itu mengandung dualisme, artinya relawan masih tidak mengerti arah politik presiden yang mereka dukung itu. Apakah tiga periode, apakah Ganjar, atau Prabowo? Semua masih mengambang bagi relawan.
Setelah memuji program yang telah dilakukannya, lebih spesifik mengenai insfrastruktur yang dibangun di semua daerah di Indonesia, Jokowi menyarankan harus hati-hati memilih pemimpin. Kata hati-hati mengandung konotasi bahwa ada pemimpin yang berbahaya dalam arti bahaya bagi keberlanjutan visi-misi pembangunan Jokowi.
Karena itu, masih dalam kata hati-hati, memilih pemimpin harus lihat penampilannya, yaitu memiliki wajah kerut dan rambut putih itulah yang memikirkan rakyat, selain itu, harus diwaspadai. “Saya ulang, jadi pemimpin yang mikirin rakyat itu kelihatan dari penampilannya, dari kerutan di wajahnya. Kalau wajahnya celing, bersih, tidak ada kerutan di wajahnya, hati-hati. Lihat juga, kalau rambutnya putih semua, nih mikirin rakyat nih,” kata Jokowi Lagi dan Lagi.
Kalau kalimat ini diteruskan, maka kita boleh berbalik sedikit ke belakang. Soekarno adalah Presiden pertama, orangnya ganteng, pakaiannya necis, setelan jasnya mahal-mahal, dasinya selalu digunakan, dengan kopiah khasnya. Pahlawan Nasional yang menjadi icon PDIP itu adalah pribadi yang rapi dan bersih, tidak putih juga rambutnya. Tapi apakah ada yang berani mengatakan Soekarno tidak pro rakyat, tidak memikirkan rakyat?
Setelah Soekarno kita dipimpin presiden Soeharto. Di penghujung jabatanya rambut Pak Harto sudah beruban semua, wajahnya juga sudah mulai keriput, apakah kita mengatakan Soeharto lebih baik dari Soekarno? Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, saya ingin mengatakan, penilai fisik seperti ini tidak selalu berkaitan dengan cara berpikir atau berbuat untuk rakyat, karena fisik bukan dasar penilaian untuk mengatakan bahwa pemimpin itu memikirkan rakyat atau tidak.
Kalau misalnya dibalik logika itu, mungkin mukanya keriput dan ramputnya putih karena memikirkan memperkaya diri sendiri, memikirkan modal dari oligarki yang belum dibayar lunas, memikirkan bagaimana menjadi presiden, memikirkan bagaimana menambah masa jabatan presiden dan atau memperpanjang masa jabatan presiden, bagaimana cara menjawabnya?