Seni Baca Al-Qur'an dan Menyikapi Fenomena Sawer terhadap Qariah

Sumber foto: Republika.co.id
Sumber foto: Republika.co.id
Sumber :
  • vstory

VIVA – Kitab suci Al-Qur’an sebagai bacaan utama umat Islam memiliki sifat-sifat kebudayaan tersendiri yang khas. Kehadiran Al-Qur’an di tengah-tengah umat manusia khususnya umat Islam begitu melekat dengan seni. Seni umumnya identik dengan keindahan, tidak hanya manusia yang menyukai keindahan, tetapi lebih dari itu, keindahan disenangi oleh Allah SWT.

Salah satu seni yang lahir dari Al-Qur’an yang berkembang dan menjadi primadona di kalangan umat Islam adalah seni baca yang kita kenal di antaranya dengan istilah nagham. Membaca Al-Qur’an identik dengan seni suara atau seni baca yang indah dan merdu. Dalam hadits disebutkan: “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i).

Penerapan nagham sebagai unsur seni dalam bacaan Al-Qur’an sudah tumbuh sejak periode awal Islam. Nagham sesungguhnya menempati posisi terdepan dalam jajaran seni suara dalam Islam, karena bukan saja sebagai seni tertua melainkan juga satu-satunya seni yang bermula dan terpancar dari Al-Qur’an itu sendiri sebagai wahyu dari Yang Maha Indah.

Berkaitan dengan seni baca Al-Qur’an, baru-baru ini muncul video viral tentang seorang perempuan yang membaca Al-Qur’an menggunakan seni nagham atau seorang qari’ah yang kemudian diberi saweran uang ketika membaca Al-Qur’an di depan khayalak umum pada sebuah acara. Persoalan yang memancing perbincangan ramai adalah cara pemberian saweran yang nampak kurang pantas, terlebih karena pembacanya adalah seorang perempuan. Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi kejadian tersebut.

Dalam KBBI, sawer bisa diartikan sebagai permintaan uang kepada penonton, atau penonton memberi uang kepada pemain dalam sebuah pertunjukan. Tidak seperti biasanya, jika selama ini kita mengetahui bahwa menyawer di Indonesia biasanya diberikan kepada para penyanyi, namun kali ini pemberian sawer justru diberikan kepada seorang qari’/qari’ah. Keberadaan sawer menunjukkan kebahagiaan dan penghargaan si pemberi pada pertunjukan si penerima.

Jika kita telusuri, fenomena sawer kepada qari’/qari’ah ketika sedang membaca Al-Qur’an bukanlah budaya asli Indonesia, melainkan berasal dari Pakistan. Diketahui, masyarakat di sana mengagumi suara-suara emas yang dimiliki oleh para qari’/qari’ah ketika membaca Al-Qur’an, yang kemudian kekaguman itu disalurkan melalui saweran uang. Selain sebagai bentuk apresiasi, saweran juga bagian dari amal baik dalam mensyukuri rezeki yang diberikan Allah SWT.

Tidak diketahui secara pasti kapan budaya ini mulai masuk ke Indonesia, namun dengan perkembangan zaman dan teknologi, praktik ini bisa kita lihat dan saksikan melalui berbagai media online seperti facebook, youtube dan lain-lain. Selain itu, budaya ini juga bisa saja dibawa oleh para qari’/qari’ah yang pernah tampil di Pakistan atau bahkan yang secara langsung pernah disawer, dan memang jika dilihat, terdapat beberapa qari’ dari Indonesia yang pernah merasakan hal itu.

Halaman Selanjutnya
img_title
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.