ChatGPT - “When Love and Hate Collide”
- vstory
VIVA – Buat penggemar musik khususnya musik cadas atau rock, judul artikel ini tentu akan langsung mengingatkan kita pada lagu bernuansa balada yang dibawakan oleh group musik rock yang berasal dari negerinya Ratu Elizabeth II …, eh, maaf, Raja Charles III, yaitu Def Leppard.
Lagu balada yang buat sebagian orang mungkin terdengar rada mellow ini bercerita tentang hubungan sepasang kekasih yang penuh konflik dan ketegangan, namun tidak dapat berpisah satu sama lain karena perasaan cinta dan gairah yang sangat intens. Paradoks cinta dan benci digambarkan dengan sangat baik di sini, apalagi karena liriknya dibawakan oleh suara khas sang vokalis Joe Elliot dengan iringan petikan gitar Phil Collen dan gebukan drum legendarIs Rick Allen.
Penggambaran dua emosi yang saling bertentangan ini jugalah yang mungkin saat ini bisa disematkan pada ChatGPT sebagai salah satu contoh teknologi kecerdasan buatan (AI) disruptif yang dicintai sekaligus ditakuti atau dibenci.
Jika dalam seri pertama artikel ini penulis sudah memberikan gambaran berbagai contoh penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari (yang mungkin kita sendiri juga tidak sadar sudah sering kita gunakan), maka sangat wajar apabila kita berasumsi bahwa AI ini pun juga pada akhirnya akan merambah dunia pendidikan dengan pengaruh yang lebih besar lagi.
Sebagaimana halnya teknologi disruptif yang mampu mengubah cara kerja kita dengan memperkenalkan aliran kerja yang lebih terotomatisasi, lebih efisien, serta memberikan alternatif solusi yang variatif, maka teknologi AI pun akan membawa perubahan yang sama dalam dunia pendidikan.
Penggunaan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran dalam dunia pendidikan sebenarnya bukan hal yang baru ataupun aneh. Sebagai alat bantu pembelajaran, penggunaan laptop, tablet, ataupun smartphone bisa menampilkan materi-materi pelajaran berbentuk audio-visual yang lebih hidup dan interaktif sehingga membantu pemahaman siswa terhadap materi ajar.
Dunia pendidikan pun sudah menggunakan teknologi jaringan, web, pengolahan multimedia, kompresi data, dan sebagainya secara lebih intensif dalam tiga tahun terakhir sejak pandemi Covid 19 merebak. Ini misalnya ditunjukkan dalam bentuk penggunaan platform e-learning daring / online, tatap muka online dengan menggunakan platform video conference, atau bahkan penggunaan teknologi metaverse untuk menggelar kelas virtual baik itu secara langsung ataupun tidak.