Mengukur Kebebasan Mengisi Ruang

Kuas dan tinta
Sumber :
  • vstory

VIVA.co.id – Nashar adalah seorang pelukis, sudah lama Almarhum. Menurutnya, sebidang kanvas adalah sebidang ruang kosong dan harus diisi dengan apa-apa yang ada dalam kepala.

img_title Kebebasan Berpendapat Disebut Harus Diiringi Tanggung Jawab dan Argumentasi yang Kuat

Tapi tidak semua yang ada di dalam kepala bisa ditumpahkan ke atas ruang itu. Kalau semuanya ditumpahkan ke atasnya, hasilnya bukan lagi sebuah lukisan, bisa jadi sampah ide-ide.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Karena itu banyak pelukis pemula, menumpahkan seluruh yang ada di dalam kepalanya ke sebidang kanvas dan kemudian memujinya sebagai sebuah lukisan ekspresif, bebas aliran, dan merasa sukses melawan kemapanan pelukis-pelukis tua.

img_title Platform Media dan Ruang Digital Tuntut Gaya Responsif-Humanis dari Jubir Pemerintah

Padahal, bebas berbuat apa saja, bukan berarti bebas menumpahkan semua yang ada di dalam kepala ke suatu bidang ruang. Karena setiap ruang ada fungsinya.

Setiap ruang ada manfaatnya. Setiap ruang mengundang tempo dan irama. Setiap ruang ada warna. Setiap ruang memiliki estetika. Setiap ruang punya garis imajiner yang tidak boleh dilangkahi.

img_title Dari Mod hingga Server Kustom, Minecraft Java Punya Kebebasan untuk Pemain

Karena itu, tidak semua ruang bisa diisi dengan apa saja, meski ruang itu bebas untuk diisi. Sebagai contoh, Anda tidak boleh berak di ruang resepsi pernikahan, dan -- tentu saja -- tidak mungkin juga menggelar resepsi pernikahan di kakus.

Tidak ada aturan tertulis hitam di atas putih, tapi ada etika dan estetika yang menuntut untuk menghormati ruang dan bidang yang ada. Tidak melangkahi garis imajiner, tidak melanggar batas yang sudah dimaklumi. Itulah, kebebasan memiliki estetika, ada aturan, dan etikanya.

Tentang kebebasan ini, saya ingat pada suatu peristiwa dalam Dialog Budaya di Studio Mini IKJ awal 1980-an.

Ada dua budayawan besar yang hadir di depan. Yaitu Goenawan Mohamad (pasti sampai kini masih banyak wartawan dan penulis muda yang mengidolakannya) dan Mochtar Loebis (sekarang sudah Almarhum).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mereka bicara soal kebebasan menulis dan berkreasi. Setiap halaman di majalah Horison boleh ditulis apa saja dan oleh siapa saja. Tidak harus puisi, cerpen, esai, masalah politik juga boleh.

Tapi dialog soal kebebasan itu berakhir ribut. Keduanya saling memaki. Pasalnya, yang satu menilai bebas itu bebas berbuat apa saja. Yang satu lagi mengatakan, Amerika Serikat yang membebaskan rakyatnya berbuat apa saja ternyata juga tidak bisa bebas seenaknya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut