Nasib Jalan Tol dengan Trafik Sepi di Indonesia

Jalan Tol Semarang-Solo
Sumber :
  • Antara/ R Rekotomo
VIVAnews - Jalan tol bisa menjadi salah satu bisnis yang memberikan keuntungan besar bagi suatu badan usaha. Bagaimana tidak, setiap harinya, pertumbuhan kendaraan roda empat di Indonesia bisa mencapai 500-an unit.

Penjualan mobil yang begitu tinggi tersebut, menjadi tolak ukur bahwa bisnis terkait seperti jalan tol akan sangat menguntungkan. Namun, tidak semua jalan tol mengalami keuntungan. Ada juga yang terseok-seok, hingga akhirnya memutuskan menjual jalan tol milik mereka.

Jalan-jalan tol dengan lalu lintas yang sepi itu hanya menambah beban utang, atau tidak bisa memberikan keuntungan kepada pemegang konsesi jalan tol tersebut, seperti yang diharapkan dalam Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT).

1. Tol Kanci-Pejagan

Tol ini sebelumnya dimiliki oleh PT Bakrieland Development Tbk. Perseroan secara resmi mengumumkan bahwa ruas tol ini dijual bersama anak usahanya yaitu PT Bakrie Toll Road kepada MNC Group.

Direktur Utama Bakrieland Development, Ambono Janurianto, mengatakan, selama ini kinerja perseroan terbebani dengan beban utang Bakrie Toll Road.

Bakrie Toll Road yang memegang konsesi untuk ruas tol Kanci-Pejagan, Pejagan-Pemalang, Pasuruan-Probolinggo, Cimanggis-Cibitung, dan Ciawi-Sukabumi ini mengontribusi rasio utang Bakrieland cukup besar.

"Sekitar 40 persen rasio utang Bakrieland itu ditunjang oleh jalan tol," ujar Ambono dalam paparan publik Bakrieland Development di Jakarta, Desember lalu.

Ambono menuturkan, pemasukan dari jalan tol ini hanya sekitar Rp100 miliar. Padahal, ada beban utang yang harus dibayarkan senilai Rp150 miliar setiap tahunnya. Bahkan, ia mengungkapkan, penghasilan tersebut tidak cukup untuk membiayai bunga utang.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Achmad Gani Ghazali, kepada VIVAnews, mengatakan, sedikitnya kendaraan yang lewat di jalan tol ini, karena belum terhubungnya tol tersebut dengan ruas Trans Jawa lainnya dan akibat kondisi jalan yang jelek.

Tol ini beberapa waktu lalu telah dinyatakan cedera janji (default) operasi dan diminta untuk memperbaiki standar pelayanan minimum (SPM) jalan tol mereka dalam waktu tiga bulan.


2. Jakarta Outer Ring Road (JORR) W1 ruas Kebon Jeruk-Puri Kembangan

Achmad Gani Ghazali, mengatakan, dari pemantauan pihaknya, bagian dari ruas tol JORR ini merupakan salah satu jalan tol yang pemasukannya tidak seperti yang diharapkan dalam pembuatan rencana bisnis.

"Dari business plan itu perkiraannya sekitar 50 ribu kendaraan per hari, namun sekarang hanya sekitar 32-40 ribu kendaraan," kata Gani kepada VIVAnews, Rabu 3 April 2013.

Gani mengatakan, kecilnya trafik yang melewati ruas tol ini, karena belum terhubungnya jaringan jalan tol lingkar luar Jakarta yang saat ini sedang bermasalah soal pembebasan tanah.


3. Tol Waru Juanda

Ruas tol yang merupakan akses menuju Bandara Internasional Juanda di Surabaya ini adalah milik PT Citra Margatama Surabaya yang merupakan anak usaha dari PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk.

Tol sepanjang 12,8 kilometer ini, menurut Gani, belum terlalu bagus. Sebab, lalulintas harian rata-rata (LHR) belum tercapai sesuai dengan rencana bisnis.

Gani mengungkapkan, beberapa tahun lalu, nasib tol ini hampir sama dengan Kanci-Pejagan. Namun, karena ada restrukturisasi utang, jalan tol ini bisa bertahan.


4. Tol Semarang

Jalan tol Semarang merupakan bagian dari jalan tol Trans Jawa yang menghubungkan wilayah barat, timur, serta selatan kota Semarang. Jalan tol ini, menurut situs resmi PT Jasa Marga Tbk, mulai dioperasikan secara bertahap sejak 1983.

Jalan sepanjang 24,75 kilometer dan melewati wilayah Srondol, Kaligawe, dan Manyaran ini, menurut Gani, juga merupakan salah satu tol yang berpenghasilan rendah.

Direktur Operasi Jasa Marga, Hasanudin, mengatakan, jalan tol ini hanya bisa memberikan sedikit pemasukan kepada perseroan. Sebagian besar penghasilan jalan tol ini, menurut dia, digunakan untuk pemeliharaan dan biaya operasional jalan tol.


5. Tol Belawan-Medan-Tanjung Morawa

Jalan tol ini dikelola oleh Jasa Marga. Dibangun oleh kontraktor Takenaka Nippo Hutama dan konsultan Jepang PCI (Pacific Consultant International), yang mulai beroperasi pada 1986.

Tol sepanjang 34 kilometer ini menghubungkan Pelabuhan Belawan ke Medan dan Tanjung Morawa.

Hasanudin mengatakan, penghasilan ruas tol ini baru cukup untuk membiayai biaya operasi tol dan pemeliharaan rutin guna menjaga standar pelayanan minimum. "Di ruas tol ini lalu lintas hariannya sekitar 60 ribu kendaraan per hari," katanya.

Dia menambahkan, ruas tol ini sudah bisa memberikan kontribusi laba bagi perseroan secara keseluruhan. Namun, angkanya masih amat kecil, jika dibandingkan tol-tol yang konsesinya dipegang oleh Jasa Marga.


6. Tol Palimanan-Kanci

Hasanudin mengatakan bahwa salah satu jaringan tol Trans Jawa ini juga merupakan jalan tol yang penghasilannya hanya mencukupi untuk pemeliharaan rutin dan biaya operasional.

Tol sepanjang 28,8 kilometer ini juga belum bisa memberikan pemasukan yang berarti bagi Jasa Marga.

Sepinya lalu lintas kendaraan di rute Trans Jawa ini, karena belum terhubungnya seluruh jaringan jalan tol di Pulau Jawa, sehingga mobil lebih memilih untuk melewati jalan nasional.

Sementara itu, jalan tol yang akan menghubungkan jalan tol ini dengan tol Cikampek, yakni ruas Cikampek-Palimanan, baru akan rampung pada 2015. (art)