Batan: RI Tak Pernah Kena Nuklir, Kita Tak Maju-maju

Reaktor nuklir Korsel di Busan.
Sumber :
  • Reuters

VIVA.co.id – Kepala Pusdiklat Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Sudi Ariyanto mengatakan, sudah saatnya Indonesia mengambil keputusan untuk 'go nuklir'. Sebab, berkaca dari Belarusia yang terdampak bencana  Chernobyl pada 1986, kini mereka berani memutuskan untuk membuat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

"Dua tahun ke depan mereka akan mengoperasikan PLTN. 2018 sudah akan beroperasi, mereka move on. Kita tidak pernah kena dampak, kita tidak maju-maju," ungkap Sudi saat diskusi peringatan 30 tahun kecelakaan Chernobyl di Kantor Batan, Jakarta, Selasa, 26 April 2016.

Ia juga mencontohkan, seperti Jepang. Pada 1945, Negeri Matahari Terbit itu merasakan dampak ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Jepang, kata dia, bukan menjadikan tragedi itu sebagai ketakutan, tapi malah menjadikan untuk maju dalam berkompetisi terkait nuklir.

Mengenai ketakutan akan dampak pengembangan nuklir, Sudi meminta masyarakat tak takut. Sebab, menurutnya, dampak terbesar dari penggunaan nuklir untuk menunjang kebutuhan sehari-hari bukan soal radiasi, melainkan dampak psikologis. Yaitu kondisi orang-orang yang hanya mendengar berita belum valid.

Menurut Sudi, dampak nuklir yang ada dalam pikiran masyarakat itu sudah semestinya ditepis. Sebab, nuklir tidak akan berbahaya selama mengikuti beberapa syarat, yakni intensitas dan waktu terhadap radiasi yang harus diatur dan jarak dari radiasi. Semakin jauh jarak radiasi, maka tidak akan berbahaya.

"Jadi sudah saatnya kita memanfaatkan nuklir untuk kesejahteraan masyarakat.”

Kepala Bidang Diseminasi Batan, Dimas Irawan menuturkan, Belarusia, dalam memutuskan membangun PLTN tidak menimbang persetujuan dari penduduk Belarusia. Pemerintah Belarusia langsung mengambil keputusan 'go nuklir' tanpa referendum.

"Kita dari survei, sekitar 70 persen penduduk Indonesia sudah setuju untuk menggunakan nuklir," kata Dimas.

(mus)