Pertamina Olah Minyak Mentah dari Irak Pakai Kilang Shell

Sumur Ekplorasi Pertamina EP
Sumber :
  • VIVA.co.id/Muhamad Solihin

VIVA.co.id – PT Pertamina (Persero) bekerja sama dengan Shell Internasional Eastern Trading Company (SIETCO) untuk mengolah minyak mentah asal Irak atau Basrah Crude milik Pertamina dalam skema Crude Processing Deal (CPD).

Minyak mentah tersebut akan diolah di kilang milik Shell yang salah satunya berlokasi di Singapura untuk dijadikan produk Bahan Bakar Minyak (BBM) .

Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto mengatakan bahwa hal ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan impor BBM dalam negeri yang masih tinggi. 

"Karena, baik secara negara maupun perusahaan kita selalu ditekan dengan impor produk yang besar, tentu kita ingin mengurangi itu," kata Dwi di kantor Pusat Pertamina, Rabu 31 Agustus 2016. 

Ia menguraikan bahwa impor produk minyak ke dalam negeri cukup besar, misalnya saja pada tahun 2015 mencapai sembilan juta barel per bulannya yang pada waktu itu, Pertamina baru bisa memproduksi sebanyak 4,5 juta barel. Lalu, pada tahun 2016, dengan beroperasinya kilang TPPI milik Pertamina mampu mengurangi impor 1,5 juta barel. 

"Dari sembilan juta barel pada tahun 2015, kita harapkan menjadi enam atau tujuh. Karena ada potensi yang muncul adalah CPD yang memanfaatkan crude Pertamina di Irak. Ini langkah untuk mengurangi impor langsung," kata dia. Ia menjelaskan, Shell Internasional Eastern Trading Company dipilih sebagai mitra melalui seleksi panjang dari Januari hingga Mei 2016.

Berdasarkan kesepakatan itu, volume minyak mentah yang akan diolah adalah satu juta barel per bulan dan Pertamina akan memperoleh produk bahan bakar sesuai kebutuhan pertamina. "Sebenarnya sudah ditandatangani juni 2016, tapi tadi kita adendum," katanya 

Sementara, SVP Integrated Supply Chain Pertamina, Daniel Purba, mengatakan bahwa kontrak ini sebenarnya sudah dilakukan pada Juni 2016 namun resmi diumumkannya adalah pada hari ini dan masa berakhirnya kontrak hingga  Desember 2016.

Ia mengatakan sebenarnya untuk tahap awal kesepakatan hanya untuk memproduksi Premium dengan Ron 88, namun karena melihat permintaan pasar saat ini ada kemungkinan untuk memproduksi pertamax hingga aftur. 

"Ketika kita membahas CPD ini kita (awalnya) hanya mengambil premium 88, tapi karena demand pertamax juga meningkat, kita lihat tidak hanya premium saja nantinya tapi pertamax, atau kita ambil aftur juga. Itu yang kita addendum hari ini," tuturnya.