Intip Fosil Tertua di Bumi, Berusia 3,7 Miliar Tahun

Fosil tertua di Bumi
Sumber :
  • www.livescience.com/Allen Nutman/Nature

VIVA.co.id – Ilmuwan menemukan fosil purba yang diperkirakan paling tua di dunia. Fosil tersebut ditemukan di Isua Greenstone Belt, barat daya Greenland. Fosil ini istimewa, sebab diperkirakan berusia 3,7 miliar tahun. Artinya fosil tersebut sementara ini menjadi yang paling tertua.

“Di sini kita menemukan bukti kehidupan purba yang terekspos dari batu metakarbonat berusia 3,7 miliar tahun yang mengandung stromatolit setinggi 1 sampai 4 sentimeter," jelas para peneliti dalam sebuah jurnal yang diterbitkan Nature, dilansir Tech Times, Jumat 2 September 2016.

Stromatolit merupakan struktur mineral berlapis makroskopik yang dihasilkan oleh komunitas mikroba.

Pada fosil di Isua Greenstone Belt, stromatolit punya kerucut kecil dan hanya satu sampai 4 sentimeter. Tesktur batuan di sekitar menunjukkan stromatolit terletak di bawah laut dangkal. Artinya, ini memberikan bukti pertama lingkungan kehidupan awal berkembang.

Ilmuwan menjelaskan estimasi usia fosil yang ternyata telah ada menjelang awal Late Heavy Bombardment, yaitu periode saat Bumi baru terbentuk dan terus-menerus ditumbuk oleh asteroid dan komet.

Nah, pada era tersebut, sebelum ditemukan fosil ini, ilmuwan masih memperdebatkan apakah mungkin kehidupan baru sudah dimulai atau belum.

Ilmuwan menjelaskan, dari usia fosil tersebut menunjukkan kemungkinan Planet Merah, planet tetangga Bumi, sudah mendukung kehidupan sejak periode Late Heavy Bombardment. Sebab pada era tersebut, Planet Mars diyakini kondisi lingkungannya mirip dengan Bumi.  

Ilmuwan mengatakan, jika usia fosil baru itu terkonfirmasi, makan akan memecahkan usia fosil tua sebelumnya. Sebelumnya bukti kehidupan tertua dalam stromatolit di Australia Barat yang berusia 3,48 miliar tahun.

"Penemuan ini merupakan patokan baru untuk bukti kehidupan terawetkan tertua di Bumi. Ini menunjuk cepatnya munculnya kehidupan di Bumi dan mendukung pencarian kehidupan di batu kuno yang mirip di Mars," kata salah seorang ilmuwan, Martin Van Kranendonk, dari University of Wollongong, Australia.