Fakta Menarik di Balik Pertunjukan Terkenal Balet Tiongkok

Pertunjukan Raise The Red Lantern
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah

VIVA.co.id – Mengangkat kisah berlatar kehidupan tahun 1920 di China, seorang wanita muda yang baru berusia 19 tahun menikah dengan keluarga kaya, dan menjadi istri ketiga.

Pertunjukan balet Raise the Red Lantern yang dipersembahkan oleh The National Ballet of China telah menjadi pertunjukan dunia yang selalu mengundang rasa kagum penontonnya.

Seperti diceritakan Ketua Rombongan National Ballet of China, Wang Cai Jun pada VIVA.co.id usai pertunjukan yang digelar selama dua hari di Ciputra Artpreneur, cerita balet ini sebenarnya adalah film yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk sebuah pertunjukan tari balet. Berikut ini beberapa fakta tentang pertunjukan balet Raise the Red Lantern.

Diangkat dari novel

Diangkat dari novel, kemudian difilmkan. Balet ini memiliki judul yang sama dengan filmnya, Raise the Red Lantern. Dan, film ini sendiri berasal dari sebuah novel berjudul Wives and Concubines karya Su Tong.

Kental dengan Opera Peking

"Karena awalnya kita mau mengompilasikan kebudayaan barat dengan tradisi Tiongkok. Karena balet ini kesenian yang sangat unik dalam kebudayaan Barat, dan dalam kebudayaan tradisional China yang sangat unik adalah opera Peking."
 
Lebih lanjut Wang mengatakan,"Dalam novel, istri ketiga ini seorang artis opera Peking, sehingga sangat cocok mengombinasikan dua kebudayaan. Dan pada saat itu, sutradaranya, Zhang Yimou, yang adalah sutradara film itu, beliau sangat berminat untuk mempertunjukkannya di panggung balet."

Kostum

"Memang sangat susah (mengadaptasi dari film ke balet), karena misalnya salah satu kesulitan adalah desain bajunya. Karena dalam pertunjukannya (film) pakaiannya pakaian tradisional China, Qipao, dengan bukaan samping, tapi dalam balet banyak gerak, kemungkinan pakaian bisa menutup muka, sehingga tidak bagus dilihat."

"Sehingga kita berkali-kali mencoba sambil melihat pertunjukan, gerakan seperti apa yang bisa dipertunjukkan sambil menggunakan pakaian ini. Makanya bisa kita lihat, Qipao yang sekarang berbeda dengan yang tradisional. Dan background panggung unik, menurut kebudayaan tradisional China, hiasan ini sebenarnya hiasan jendela bangunan tradisional, dengan ukuran kecil, tapi kemudian kita besarkan jadi background."

Lentera Merah

Dalam sebuah adegan, istri kedua membuat murka sang suami karena menyalakan lentera merah, yang dalam tradisi keluarga mereka, hanya suami yang berkuasa untuk menyalakan lentera.

Dalam masyarakat China sendiri, lentera merah akan dinyalakan hanya pada saat memperoleh kebahagiaan. "Kalau di China dan sama seperti dalam novelnya, kalau kita 'Raise a lantern' itu kalau kita dapat kebahagiaan, kalau dalam novel disimbolkan kalau lentera dihidupkan, berarti suami akan bermalam dengan istrinya yang ini (salah satu dari empat istri)," kata Wang menjelaskan.

Wayang Kulit

Kolaborasi unsur-unsur seni kebangsaan klasik Tiongkok sangat kental terasa, selain dari sinematografi, opera Peking, tapi juga wayang kulit.

"Tadi kita pakai background kertas, kita mengambil ide dari wayang kulit China (Piying)," kata Wang.

Dari Anak Jalanan hingga Mahasiswa

Hanya pentas selama dua hari, 2 hingga 3 November 2016, pementasan tari balet ini cukup terbatas hanya pada tamu undangan. Dan di antaranya adalah dari DILTS Foundation, yang menampung anak-anak pemulung, ojek payung untuk dibina dan diberi pendidikan non formal.

"Ini salah satu kesempatan mereka belajar, khususnya lewat balet, teater dan musik. Karena kita ada salah satu foundation kita di bidang teater," kata Bayu Indrakusuma, Ketua Yayasan DILTS

Sedangkan dari kalangan mahasiswa, turut hadir adalah dari mahasiswi jurusan Seni drama tari musik UNJ. Kehadiran para mahasiswa ini diharapkan bisa memacu semangat untuk memahami pentingnya latihan sebelum hari H.

"Mengajak mahasiswa mengapresiasi, sebagai penari yang paling penting waktu latihan harus betul-betul latihan, tidak main-main. Terbukti mereka (tim The National Ballet of China) saat latihan benar-benar total. Kalau anak-anak kita kan, 'Sudahlah nanti pas hari H.' Sebenarnya sebagai penari, latihan paling penting," kata Ida Bagus Ketut Sudiasa, M.Sn.