Batasi Jumlah Imigran, Pemerintahan Trump Ubah Puisi di Patung Liberty

Kutipan tentang `cita-cita Amerika` di Patung Liberty, New York, diubah pejabat tinggi imigrasi AS. - Getty Images
Sumber :
  • bbc

Pejabat tinggi imigrasi Amerika Serikat mengubah kutipan yang tertulis di Patung Liberty, New York, untuk menyokong kebijakan Presiden Donald Trump menghentikan bantuan makanan bagi imigran bersurat resmi.

Kepala Layanan Kewarganegaraan dan Imigrasi AS, Ken Cuccinelli, mengubah kutipan bertuliskan, " Berikan kepadaku orang-orang yang lelah, miskin, dan kerumunan massa yang merindukan kebebasan ".

Kutipan itu ditambah dengan kalimat, " yang bisa berdiri di atas kedua kaki mereka sendiri dan yang tidak akan menjadi beban publik ."

Senin (12/08), Cuccinelli mengumumkan pemberlakuan ketentuan biaya publik yang membatasi imigran resmi mendapatkan manfaat sosial seperti perumahan dan makanan.


Puisi berjudul The New Colossus ditulis penyair kelahiran New York, Emma Lazarus, tahun 1883. - Getty Images

Regulasi yang disebut peraturan biaya publik itu diluncurkan di Lembaran Federal. Ketentuan ini bakal resmi berlaku 15 Oktober mendatang.

Pemerintahan Donald Trump berharap pergantian aturan ini dapat menegakkan ketahanan nasional. Namun sejumlah pihak mengkritik, regulasi itu akan membatasi kelas ekonomi bawah AS meraih bantuan sosial.

Apa yang dikatakan pemerintah AS?

Selasa lalu, Cuccinelli ditanyai oleh National Public Radio (NPR), apakah makna dalam puisi yang ditulis tahun 1883 dan berjudul The New Colossus di Patung Liberty masih berlaku.

"Apakah Anda setuju bahwa kalimat yang tertera, `Berikan kepadaku orang-orang lelah dan miskin` merupakan bagian dari pandangan hidup Amerika?" kata wartawan NPR, Rachel Martin.

"Tentu saja," kata Cuccinelli. "Berikan kepadaku orang lelah dan miskin—yang dapat berdiri di dua kaki mereka sendiri dan tidak akan menjadi beban masyarakat," tuturnya.

"Lempengan berisi tulisan itu ditempelkan ke Patung Liberty pada waktu yang hampir bersamaan dengan pengesahan regulasi anggaran publik."

"Itu kesamaan waktu yang menarik," ujarnya.


Ken Cuccinelli saat ini menjabat sebagai pelaksana tugas kepala Layanan Kewarganegaraan dan Imigrasi AS. - Getty Images

Kutipan puisi itu sebenarnya berbunyi, "Berikan kepadaku orang-orang yang lelah, miskin, dan kerumunan orang yang merindukan kebebasan, mereka yang malang ditolak si kaya."

"Kirimkan mereka, para gelandangan, mereka yang dalam bahaya, kepadaku. Aku akan mengangkat pelita di sisi pintu emas."

Dalam sesi tanya-jawab, Cuccinelli menyebut imigran yang diterima AS adalah "mereka yang dapat berdiri di atas kaki sendiri, sanggup memenuhi kebutuhan sendiri, sebagaimana tradisi Amerika".

Saat dikonfirmasi apakah kebijakan itu mengubah wajah `cita-cita Amerika`, Cuccinelli berkata, "Kami mengundang mereka datang ke sini dan bergabung dengan kami dengan hak khusus."

"Tidak ada orang yang berhak menjadi warga Amerika, yang tidak dilahirkan di sini sebagai warga Amerika," kata Cuccinelli.


Perintah eksekutif Presiden Trump tentang imigrasi memicu gelombang demonstrasi di banyak kota Amerika Serikat. - Getty Images

Cuccinelli lantas mendapat sejumlah kritik dalam tayangan CNN. Ia menyanggah tudingan tentang upaya mengubah puisi di Patung Liberty.

Cuccinelli berkeras dia hanya menjawab pernyataan dan menuduh kelompok sayap kiri memutarbalikkan pernyataannya.

Saat ditanyai penyiar CNN Erin Burnett tentang prinsip yang dipegang teguh AS, ia berkata, "Tentu puisi itu merujuk kepada orang-orang yang datang dari Eropa, di mana mereka terbagi dalam kelas sosial, ketika seseorang dianggap malang jika tidak berada di kelas yang sesuai."

Cuccinelli dan Burnett lantas berbincang tentang darah imigran yang terkandung dalam tubuh mereka. Burnett menilai, kebijakan baru AS bakal menyingkirkan keluarganya.

"Saya berada di sini karena mereka pendahulu saya dipersilakan masuk, dan kini saya adalah penyiar CNN," kata Burnett.

Beto O`Rouke, peserta konvensi calon presiden AS di Partai Demokrat asal Texas, mengunggah klip wawancara CNN itu.

O`Rouke berkata, pernyataan Cuccinelli menunjukkan pemerintahan Trump yang menganggap "Patung Liberty hanya berlaku untuk orang-orang berkulit putih".


Sekelompok pengemudi taksi dari berbagai latar suku bangsa bersembahyang di sekitar bandara John F Kennedy, Mei 2006. - Getty Images

Apa reaksi atas kebijakan ini?

Komite Keamanan Dalam Negeri di DPR AS yang dipimpin perwakilan Demokrat mengutuk perubahan kutipan puisi patung Liberty yang dilakukan Cuccinelli.

Melalui cuitan di Twitter, mereka menyebut kebijakan itu keji dan sangat tidak mencerminkan Amerika.

"Jelas bahwa pemerintahan Trump hanya ingin mencegah kedatangan sekelompok orang," tulis komite itu dalam akun Twitter. Mereka menyebut Cuccinelli sebagai politikus kecil anti-imigran pengidap xenofobia yang tidak semestinya duduk di pemerintahan.

Adapun, kelompok lain menggarisbawahi rekam jejak Cuccinelli sebagai jaksa agung di negara bagian Virginia. Pada saat itu ia memimpin program konservatif melawan imigrasi dan homoseksualitas.

Saat dikonfirmasi tentang langkah Cuccinelli, Selasa lalu, Trump tidak secara langsung merujuk kutipan di Patung Liberty.

"Saya tidak merasa ini adil bahwa pembayar pajak di AS harus menanggung orang-orang yang datang ke negara ini."

"Saya lelah melihat pembayar pajak kita membayar beban mereka yang datang ke AS dan dengan segera menuntut kesejahteraan dan hal-hal lainnya," kata Trump.

"Jadi saya rasa kebijakan ini tepat," tuturnya.


Presiden AS, Donald Trump, menilai kebijakannya terkait pendatang atau imigran sebagai langkah tepat. - Getty Images

Siapa saja yang akan terdampak?

Imigran yang saat ini memegang status penduduk tetap di Amerika Serikat, tidak akan terpengaruh dengan perubahan kebijakan ini.

Aturan ini juga tidak berlaku bagi pengungsi dan pemohon suaka.

Namun, pemohonan perpanjangan visa, penduduk tetap dan kewarganegaraan, akan menjadi sasaran dari kebijakan ini.

Mereka yang tidak memenuhi kriteria standar penghasilan atau mereka yang menggantungkan diri pada program bantuan bisa jadi tidak diizinkan memasuki negara ini.

Mereka yang berada di Amerika Serikat, juga bisa ditolak aplikasinya.

Sekitar 22 juta warga Amerika Serikat tidak memiliki kewarganegaraan dan banyak dari mereka akan terdampak kebijakan baru ini.

Kelompok hak-hak sipil menyebut langkah ini menyasar imigran berpenghasilan rendah.

National Immigration Law Center (NILC) menyebut mereka akan menuntut pemerintahan Presiden Donald Trump agar tidak mengimplementasikan kebijakan ini.

Tetapi Gedung Putih mengatakan sistem saat ini lebih memilih imigran dengan ikatan keluarga daripada mereka yang "mandiri dan tidak membebani sumber daya publik kita".