Panda Tak Lagi Masuk Daftar Punah

Panda, satwa langka di China kini telah dicabut statusnya dari kepunahan menjadi rentan. Jumlah populasinya dilaporkan meningkat hingga 17 persen oleh IUCN, Senin (5/9/2016)
Sumber :
  • VIVA.co.id/IUCN doc

VIVA.co.id – Binatang endemik China, Panda Raksasa (Ailuropoda melanoleuca), tidak lagi terdaftar dalam hewan yang terancam punah. Kabar gembira ini disampaikan oleh lembaga Konservasi dunia, IUCN (International Union for Conservation of Nature) dalam kongres dunia, Minggu, 4 September 2016.

Dalam pernyataannya, IUCN menyebut jika saat ini status Panda telah diturunkan dari 'langka' menjadi rentan. Menyusul adanya kenaikan jumlah pupulasi selama 10 tahun terakhir sebanyak 17 persen.

"Giant Panda sekarang terdaftar sebagai rentan. Populasinya meningkat karena perlindungan hutan yang efektif dengan reboisasi," demikian tulis IUCN seperti dikutip di laman resminya dikutip Senin, 5 September 2016.

Meski begitu, kenaikan populasi Panda ini tetap perlu menjadi perhatian, lantaran akan adanya kemungkinan hilangnya habitat bambu Panda akibat perubahan iklim. IUCN mencatat akan ada perkiraan 35 persen habitat bambu hilang dalam 80 tahun ke depan.

"Dengan itu populasi Panda akan diproyeksikan menurun. Ini akan membalikkan keberhasilan yang telah dibuat selama dua dekade terakhir untuk menumbuhkan populasi panda," tulis IUCN.

Karena itu, IUCN mengingatkan agar ada langkah-langkah efektif dari pemerintah China untuk melakukan perlindungan hutan yang efektif demi habitat Panda ke depannya.

Sejauh ini, berdasarkan perkiraan terbaru total Panda yang ada di China mencapai 1.864 jiwa. Belum ada catatan resmi soal jumlah anak-anak Panda, namun perkiraan telah mencapai 2060 jiwa.

Dalam kongres dunia itu, IUCN juga menyebut masih ada hewan lain yang hingga kini belum beranjak dari status kritis, yakni Gorila Timur (Gorilla beringei), Gorila Barat, Orangutan Kalimantan dan Orangutan Sumatera.

FOTO: Anak Orangutan Kalimantan yang terdampak kebakaran hutan belum lama ini.

Gorila Timur misalnya, hewan ini telah kehilangan 77 persen populasinya sejak tahun 1994. Menurun dari 16.900 ekor dan kini hanya ada 3.800 ekor pada tahun 2015. Secara total, untuk Gorila Timur dan Barat kini hanya tersisa sekira 5.000 ekor lagi di seluruh dunia.

"Gorila Timur kini sudah bergeser ke arah kepunahan. Ini menyedihkan. Daftar ini menunjukkan pada kita bahwa betapa cepat krisis kepunahan global meningkat," ujar Direktur IUCN Inger Andersen.