Pengungsi Rohingya Diperlakukan Tak Manusiawi di Malaysia

Pengungsi Rohingya di Aceh.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Rahmad

VIVA.co.id – Malaysia ternyata menerapkan perlakukan yang berbeda terhadap pengungsi. Ketua Tim Peneliti Habibie Center, Mohammad Hasan Anshori, mengatakan, negeri Jiran itu merupakan salah satu negara singgah bagi pengungsi Suriah dan Rohingya asal Myanmar.

Meski menjadi salah satu negara penerima, namun Malaysia tidak memiliki aturan jelas soal penanganan pengungsi.

Menurut Hasan, yang secara langsung melakukan survei di lapangan, terdapat perlakuan berbeda yang diterima kedua pengungsi ini sangat mencolok.

"Kalau pengungsi dari Suriah, mereka diperlakukan secara istimewa. Mereka memperoleh hak-haknya seperti bersekolah dan mendapatkan akses layanan kesehatan. Sementara bagi Rohingnya, mereka tidak diberlakukan seperti itu. Semua pengungsi yang berjumlah 53 ribu orang seakan ditutup aksesnya. Padahal, sudah ada empat generasi Rohingnya di sana," kata Anshori, di Jakarta, Senin, 7 November 2016.

Ia juga mengungkapkan, saat ini ada sekitar 47 pusat penahanan yang sangat padat dan penuh sesak bagi pengungsi Rohingya di Malaysia. Tak pelak, hal ini menimbulkan kekisruhan yang berujung kekerasan.

"Akibatnya, banyak terjadi penyiksaan dan pelecehan. Makan dan minum pun belum tentu tiga kali sehari. Bahkan, untuk duduk saja sangat sulit. Lembaga internasional sampai menetapkan 'grade F' atau level terendah atas tindakan ini. Sangat tidak manusiawi," ungkap Hasan.