Pemuda Muhammadiyah Ingin Jawa Tengah Ganti Pemimpin

Forum Diskusi Reboan di Markas Relawan Sudirman Said-Ida Fauziah di Semarang pada Kamis, 8 Februari 2018.
Sumber :
  • VIVA/Dwi Royanto

VIVA – Pemuda Muhammadiyah Jawa Tengah, menyoroti betapa minim pemberdayaan pemuda dalam pemerintahan sekarang. Mereka menginginkan Jawa Tengah, mendapatkan pemimpin baru melalui Pemilihan Gubernur pada 2018. 

"Kalau ingin, pemuda Jawa Tengah mengejar ketertinggalan ini, solusinya harus ganti pemimpin; ganti seng anyar (ganti yang baru)," kata Ketua Pemuda Muhammadiyah Jawa Tengah, Zaenudin Ahpandi, dalam sebuah forum diskusi di Markas Perjuangan Merah Putih di Semarang pada Rabu 7 Februari 2018.

Zaenudin menilai, konektivitas organisasi kepemudaan di Jawa Tengah, tidak pernah diperhatikan pemerintah. Padahal, Jawa Tengah menjadi barometer pergerakan nasional. Barometer itu, seharusnya muncul dari sepak terjang kepemudaan sampai pemerintahannya.

Maka dari itu, ia menginginkan pemimpin Jawa Tengah nanti bisa memperoleh tempat yang layak dan bisa diberdayakan sesuai dengan kompetensinya di berbagai bidang. Tolok ukurnya adalah pemuda Jawa Tengah harus memiliki daya saing di kancah nasional.

"Jangan seperti dinosaurus. Memiliki kemampuan dan kekuatan yang luar biasa. Namun, hanya dikenang, karena tidak bisa beradaptasi dengan iklim dan lingkungan. Maka, kita harus menyesuaikan diri," katanya.

Abdul Walid, pegiat Santrendelik Semarang, juga merasakan perhatian pemerintah yang minim terhadap pemuda. Ia menganggap, banyak pemuda Jawa Tengah yang justru memilih berkiprah di provinsi lain seperti Jawa Barat, Jawa Timur, maupun Yogyakarta.

"Orang Jawa Barat, Jawa Timur, ketika keluar bangga menyebut daerahnya. Orang Jawa Tengah bawa nama Jawa Tengah, percaya diri atau tidak? Sangat sedikit. Kejadian itu nyata. Sangat jelas bahwa perhatian pemerintah sangat rendah pada akselerasi yang dilakukan pemuda," katanya.
 
Tidak ada jalan lain untuk mendorong kemajuan di Jawa Tengah, kecuali dengan pemberdayaan dan pemberian ruang kepada pemuda. "Jawa tengah harus belajar dari Jakarta dan Bandung. Perkembangan kelas menengah di dua daerah itu saat ini dikuasai generasi milenial," kata Sholahudin, ketua Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah.

Dalam percaturan politik, katanya, keberadaan pemuda memang menarik sekaligus tidak menarik. Namun, diakui atau tidak, perubahan revolusioner saat ini terjadi karena teknologi. "Nah, siapa pemegang kendali dalam ranah teknologi? Pemuda, generasi milenial," ujarnya.