Rektor Unnes Bantah Tuduhan Menjiplak Karya Mahasiswanya

Plagiarisme
Sumber :
  • http://www.mono-live.com

VIVA – Rektor Universitas Negeri Semarang atau Unnes, Prof Fathur Rokhman, membantah isu bahwa dia terlibat plagiarisme atau penjiplakan atas hasil penelitiannya. Isu itu mencuat gara-gara hasil penelitian sang rektor disebut hampir mirip dengan karya skripsi mahasiswanya.

Karya penelitian Fathur Rakhman diketahui berjudul Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas. Karya itu terbit pada Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra dan Pengajaran pada Universitas Negeri Yogyakarta Volume 3 Nomor 1 Tahun 2004.

Karya ilmiah itu menyerupai skripsi mahasiswanya, Anif Rida, yang berjudul Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas. Skripsi Anif terbit dalam prasidang Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta tahun 2003.

Fathur membantah isu plagiat yang belakangan mencuat, terutama di media sosial. Otoritas Unnes, katanya, juga telah menyatakan bahwa isu itu tidak benar alias hoax. "Tidak benar itu," katanya dalam pesan singkat kepada VIVA pada Selasa, 3 Juli 2018.

Rektor bahkan mencurigai bahwa isu itu sengaja dimunculkan oleh pihak tertentu menjelang pemilihan rektor Unnes periode 2018-2022. Lagi pula dia dipastikan mencalonkan lagi sebagai rektor dalam pemilihan itu.

Otoritas Unnes menilai rumor plagiat itu hanya spekulasi. Lagi pula, sebuah karya dinyatakan hasil tindakan plagiat atau tidak sebenarnya menjadi wewenang Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

"Kabar itu hanyalah spekulasi. Kalau ada plagiarisme dari seorang profesor, harusnya itu (pernyataan) dilakukan pihak Kementerian atau otoritas yang berwenang, bukan pihak individu atau melalui media sosial," kata Hendi Pratama, Kepala Unit Pelaksana Teknis Hubungan Masyarakat Unnes.

Sebatas dugaan satu karya ilmiah menyerupai karya lain, menurut Hendi, tak dapat serta-merta diukur atau dianalisis dengan judul semata. "Adanya kesamaan yang tinggi pada sebuah karya juga belum tentu plagiat. Perlu adanya penyelidikan lebih mendalam terhadap kasus ini," katanya.

Hendi menegaskan, belum ada penyelidik dari Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi maupun Direktorat Jenderal Kemenristekdikti yang datang ke Unnes untuk menginvestigasi rumor plagiarisme itu.