Pegiat HAM Sebut Penyerangan TNI di Maybrat Pertama sejak 20 Tahun

Anggota TNI AD Kabupaten Maybrat, Papua Barat, mengevakuasi korban yang meninggal dunia akibat diserang oleh orang tak dikenal, Kamis, 2 September 2021.
Sumber :
  • ANTARA

VIVA – Jaringan Damai Papua (JDP) berharap peristiwa penyerangan pos persiapan Koramil Kisor, Kabupaten Maybrat, Papua Barat, oleh kelompok bersenjata hingga menewaskan empat anggota TNI Angkatan Darat tak mengganggu kedamaian wilayah Papua Barat yang sudah terawat.

Juru bicara JDP Yan Christian Warinussy mendukung penuh pernyataan Panglima Kodam XVIII/Kasuari Mayor Jenderal I Nyoman Cantiasa tentang komunikasi baik yang sudah terbina antara aparat TNI dengan penduduk lokal kampung Kisor Distrik Aifat Selatan.

"Kalau sudah ada komunikasi baik yang terbina antara TNI dengan warga lokal, maka patut diduga kelompok penyerang posramil berasal dari luar wilayah kabupaten Maybrat," kata Warinussy.

Dalam kapasitas sebagai pegiat pembela hak asasi manusia (HAM) di Papua Barat, Yan Christian Warinussy mencatat kurun waktu 20 tahun belum pernah dia mendengar penyerangan terhadap masyarakat sipil maupun aparat keamanan dan pemerintah yang dilakukan oleh masyarakat sipil atau kelompok bersenjata di wilayah itu.

"Sehingga peristiwa yang menimpa Komandan Pos Koramil Kisor, Lettu CHB Dirman dan ketiga anggotanya tersebut cukup mengagetkan semua pihak di Papua Barat ini," tutur Warinussy.

Karena itu, kata Warinussy, JDP berharap Panglima Kodam Kasuari dan aparaturnya untuk mengedepankan pendekatan persuasif kepada masyarakat di Kampung Kisor dan sekitarnya di Distrik Aifat Selatan, guna menemukan pelaku penyerangan.

"Pendekatan ini dapat dilakukan dengan mendayagunakan peran dari tokoh agama setempat. Saya kira Pangdam XVIII/Kasuari dapat membangun komunikasi dengan Uskup Sorong dan Badan Pekerja Am Sinode GKI Di Tanah Papua, agar proses pendekatan guna menemukan akar masalah serta merajut perdamaian," ujarnya.

JDP sangat mengharapkan tidak digunakannya langkah operasi militer atau operasi militer selain perang dalam menghadapi kasus Kisor ini di kemudian hari .

"Pendekatan sosial kiranya penting digunakan dalam menyelesaikan kasus Kisor hingga ke akar masalah yang ada selama ini, sehingga kepastian terbangunnya damai di Tanah Papua juga Papua Barat menjadi nyata dan aktual," ujar Yan. (ant)